Pak Liman

Pahlawan. Mungkin itu gelar yang pantas disandang oleh Pak Liman, seorang kakek yang setiap harinya mencari sampah di sebuah hulu sungai di desanya. Tekad dan motivasi beliau sangat besar, walau di zaman sekarang orang jarang ada yang sadar dengan kebersihan lingkungan. Namun Pak Liman tidak pernah mengeluh atau menyerah, bahkan anaknya tidak peduli dengan Pak Liman. Mereka menganggap bahwa Pak Liman hanya membuang waktu.
“Apa niat Bapak selalu membersihkan hulu sungai ini?” tanya salah seorang perangkat desa setempat.
“Saya tidak punya niat apa-apa, saya hanya berpedoman pada hadis ‘kebersihan bagian dari iman’, dan air adalah sumber dari seluruh kehidupan. Apabila air kotor, maka semua jadi kotor. Saya tidak mau itu, Nak,” jawab Pak Liman.
Pemuda perangkat desa itu pun merasa malu dengan jawaban Pak Liman. Akhirnya dia melaporkan hal itu ke atasannya. Bahkan sampai ke bupati, karena memang sungai itu sangat penting di kabupaten itu. Sang Bupati pun mengundang Pak Liman ke pendopo kabupaten.
Bupati ingin memberikan penghargaan kepada Pak Liman. Namun Pak Liman menolak dengan halus.
“Pak, saya hanya menjalankan syariat yang saya yakini, jadi bagi saya bisa menjalankannya dengan istikamah sudah sangat cukup. Jika penghargaan itu membuat saya tinggi hati, lebih baik tidak,” tolak Pak Liman.
Bupati hanya geleng-geleng. Namun beliau tidak habis akal. Pak Liman diberangkatkan umrah ke Mekkah. Kali ini Pak Liman tidak bisa menolak karena sudah terdaftar di biro perjalanan haji dan umrah. Beliau tinggal berangkat.
Akhirnya Pak Liman yang hanya tukang pembersih kali bisa umrah.
Segala ketulusan pasti berbuah manis.

Diterbitkan oleh Adib La Tahzan

Penulis dengan rasa

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai