Mimpi

Tidak, hampir tidak ada tempat nyaman untukku. Setiap saat hanya ada siksa dan siksa. Air mataku mengering tak tersisa.
“Angkat koper ini ke dalam mobil!” perintah Mama sambil menunjuk sebuah koper besar.
“Iya, Ma.” Dengan anggukan aku menjawab.
Koper yang begitu besar, tentu sangatlah berat bagi anak sepuluh tahun sepertiku. Namun, Mama tidak peduli itu. Aku pun jatuh bersama koper besar itu.
“Dasar anak nggak guna!” bentak Mama sambil menyeretku bersama koper besar itu.
“Aduh, Ma. Ampun.” Kakiku berdarah karena nyangkut di lantai yang berlubang.
“Jangan manja!” bentak Mama lagi.
Papa? Entahlah, hanya ada suaranya. Tanpa ada sosoknya.
“Sakit, Ma. Kaki Hana.”
Mama dengan tanpa ragu memukul kakiku yang berdarah, rasanya sungguh sakit. Sampai aku menjerit, tetapi tidak bisa bersuara.
Hahahaha
Itu suara Papa. Namun, entah di mana? Beliau menertawakanku yang kesakitan ataukah tertawa bersama orang lain, aku tidak tahu.
Namun, sangat jelas kalau itu suara Papa. Ingin rasanya aku berteriak memanggil Papa, tetapi mulutku kelu tak bisa bersuara. Mama? Beliau terus menyiksaku tanpa henti, setelah koper besar itu aku angkat sampai ke dalam mobil. Aku kira Mama akan pergi, ternyata yang pergi hanya Pak Sopir. Entah ke mana, kini aku diseret Mama menuju dapur. Di dapur ada Bik Ema. Namun, justru diusir Mama.
“Pergi sana! Biar Hana yang di dapur,” perintah Mama.
Aku lihat wajah Bik Ema tidak seperti biasa, kali ini sangat seram dengan senyum sinisnya kepadaku. Aku merinding seolah melihat zombi.
“Sekarang kamu masak!” bentak Mama dengan sangat keras.
Hahahaha
Suara Papa kembali terdengar, lagi-lagi hanya suara tawanya yang kudengar.
Tiba-tiba punggungku terasa sangat panas, ternyata Mama menyiram punggungku dengan minyak goreng yang sangat panas.
“Jangan melamun! Cepat kerjakan!” bentak Mama bak monster yang haus darah.
“Iya, Ma. Sebentar.”
Punggungku rasanya sangat panas, tetapi aku masih kuat untuk memasak nasi. Anehnya nasinya tiba-tiba hilang seketika saat aku menoleh sebentar. Mama pun kembali datang dengan wajah yang seram, hingga membuat aku ketakutan.
“Ini nasinya ke mana?” tanya sambil menjewer telingaku.
“Ampun, Ma. Aku nggak tahu,” jawabku sambil kesakitan.
“Mama nggak mau tahu! Nasi harus matang dalam waktu 10 menit!” bentak Mama.
“Ya Tuhan, tolonglah hamba.” Aku hanya bisa berdoa, berharap semua akan cepat berlalu.
Ajaib, tiba-tiba nasinya ada dan matang dengan pulen, tidak sampai 10 menit. Hatiku sangat senang, karena mungkin aku tidak dapat siksaan dari Mama. Namun aku salah. Mama kembali dengan amarah yang meluap.
“Mana lauknya? Masa kita makan nasi doang!” bentak Mama sambil memukul wajahku.
Rasanya sakit banget, aku hanya menangis tetapi Mama tidak peduli.
“Sekarang masak lauk sana!” bentak Mama.
Padahal di dapur itu tidak ada apa-apa, aku hanya berdoa. “Ya Tuhan, apa yang harus aku masak?”
Keajaiban kembali terjadi. Papa yang tadi hanya terdengar suaranya, kini beliau datang dengan membawa sayuran.
“Ini masak,” kata Papa. Namun, sorot matanya merah seakan itu bukan Papa. Benar saja, beliau memukul pantatku hingga aku terjatuh. Di saat itulah Papa seperti ingin menggagahiku. Ya, Papa berusaha untuk membuka rok yang kukenakan.
“Ampun, Pa!” teriakku.
Mama datang. Namun hanya tertawa.
“Lakukan, Mas,” kata Mama kepada suaminya.
Semua berlalu begitu cepat, hanya tersisa rasa yang sangat sakit di kemaluanku. Aku menangis kenapa semua ini harus terjadi padaku.
Aku lihat Mama dan Papa yang makan sambil tertawa, mereka tidak peduli padaku. Ingin rasanya kabur dari rumah ini. Namun mau ke mana? Aku tidak tahu jalan, aku tidak tahu harus ke mana.
“Hai kamu, jangan hanya menangis. Kerja sana!” bentak Mama.
Tubuhku rasanya hancur, rasa sakit menjalar di sekujur tubuh. Dari kaki, kemaluan, punggung sampai telinga. Inikah neraka dari orang tua?
“Han, bersihkan kamar mandi sekarang!” bentak Mama.
Aku pun diseret ke kamar mandi yang sangat kotor, penuh dengan kotoran, kecoak, bahkan tikus. Semunya membuatku jijik. Air pun sangat sedikit.
“Kamu harus menimba lebih dulu,” kata Mama sambil melotot
“Tapi, Ma?”
“Tidak ada tapi-tapian!” bentak Mama.
Aku hanya menghela napas, sebegini amat nasibku. Apakah semua ini akan berakhir?
Aku laksanakan perintah Mama untuk menimba, sungguh berat. Ingin rasanya aku terjun ke dalam sumur. Namun, aku takut mati, aku masih ingin hidup. Aku mulai menimba sedikit demi sedikit. Aku tuangkan air dari timba ke dalam lubang kamar mandi, airnya langsung mengalir ke dalam.
Tiba-tiba Mama teriak, “Han, kamu mau kita tenggelam? Itu lihat kamar mandinya banjir.“
Aku pun kena jewer lagi, kedua telingaku rasanya sangat sakit . Aku juga heran, karena aku baru menimba sedikit. Namun kamar mandi sudah penuh, dan sampai mengalir ke mana-mana.
“Han, jangan diam saja. Sekarang bersihkan kamar mandi!” bentak Mama.
Iya, Ma,” jawabku.
Aku pun langsung mengambil alat untuk membersihkan kamar mandi. Aneh, kotoran dan kecoak masih ada walau airnya mengalir dengan deras. Aku tidak tahu harus bagaimana membersihkan semua ini.
“Ya Tuhan, tolonglah hamba.”
Tiba-tiba kecoak tadi hanyut terbawa air. Namun, air masih terus mengalir yang entah dari mana.
“Han! Airnya kok semakin banyak!” teriak Mama.
“Tidak tahu, Ma. Hana tidak menimba.”
Ternyata di luar kamar mandi ada orang yang menimba. Iya, itu Papa yang terlihat seperti monster. Aku takut, aku tidak berani apa-apa. Aku hanya membersihkan kotoran yang sedari tadi tidak mau hilang. Entah sampai kapan ini, kenapa mereka jadi seperti itu? Apa yang membuat mereka seperti itu? Apa aku salah lahir di dunia ini? Entahlah.
Tiba-tiba terdengar suara Mama yang memanggilku dengan lembut. “Nak, bangun!”
Aku terbangun dari tidurku dengan tubuh penuh keringat. Napasku masih terengah-engah, aku masih takut dengan Mama, aku tidak berani menatap Mama. Tubuhku menggigil ketakutan.
“Hana kenapa? Ini mama, Nak,” kata Mama sambil memelukku. “Hana mimpi apa?” lanjut Mama.
“Hana takut, Ma. Mama sayang Hana, ‘kan?” Kuberanikan diri untuk menatap Mama.
“Jelas, dan sudah pasti. Mama sayang Hana. Bahkan melebihi nyawa mama sendiri,” jawab Mama yang membuatku agak tenang.
Mama terus mengelus rambutku dan memberi segelas air yang sedari tadi ada di meja kecil. Aku pun minum air itu, setelah minum. Mama kembali bertanya, “Hana mimpi apa? Kok sampai ketakutan.”
Aku ceritakan semua mimpiku, Mama hanya geleng-geleng sambil terus memelukku dan bilang kepadaku.
“Nak, tidak ada orang tua yang setega itu jika mereka masih memiliki hati nurani. Semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Walau ada anak yang salah artikan dan menganggap orang tua tidak sayang. Percayalah jika mama atau papa marah itu karena kami sayang Hana, dan jika kami larang Hana melakukan sesuatu, berarti itu tidak baik untuk Hana,” jelas Mama panjang lebar yang membuatku tenang.
“Hana sayang kalian.” Kupeluk erat Mama yang telah bertaruh nyawa untuk melahirkanku ke dunia.
Ternyata hal buruk itu hanya mimpi.

Selesai.

Diterbitkan oleh Adib La Tahzan

Penulis dengan rasa

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai