Hari ini aku sedih banget karena kenangan itu kembali terlintas di benakku, di mana kedua orang tuaku pergi untuk selamanya.
Semua karena genangan di depan rumahku, rumah yang menjadi saksi bisu pada hari itu, hari yang kelam dalam hidupku. Waktu itu kakak yang menguatkanku.
“Sudahlah, Dik. Ini sudah takdir dari sang Maha Kuasa.” Dia memelukku dengan sangat erat. Aku tahu, dia juga sedih karena kepergian Ayah dan Ibu. Namun demi aku—adiknya yang masih kecil—itu tidak dia perlihatkan.
Waktu itu aku masih berusia sepuluh tahun, dan kakakku sudah tujuh belas tahun. Iya, dia sudah SMA kelas 3 saat orang tua kami menjadi korban kecelakaan di depan rumah, waktu itu Ayah dan Ibu baru pulang dari bekerja di ladang. Betapa malangnya mereka, saat mau masuk rumah tiba-tiba ada mobil yang hilang kendali dan merenggut nyawa mereka. Semua itu hanya karena genangan air di depan rumah kami yang tidak kunjung diperhatikan pemerintah. Andai aku sudah besar, pasti aku demo ke Bapak Bupati, begitu pikirku saat itu.
Dan, itu kembali terulang hari ini, hari di mana kakakku menjadi korban selanjutnya. Setelah kejadian tiga tahun lalu, jalan memang langsung diperbaiki oleh pemerintah. Namun, itu hanya bertahan tiga tahun, kini genangan itu membuatku hidup sebatang kara. Tidak ada lagi pelukan hangat seperti tiga tahun yang lalu, aku kini benar-benar sendiri di usiaku yang masih tiga belas tahun, aku masih ingat pesan kakak, “Kamu itu cowok, jangan cengeng.” Padahal aku juga pernah melihat kakakku menangis di dalam kamar. Kakakku adalah pribadi yang sangat kuat.
I miss you, Kak.
Entah kapan aku menyusul mereka, hanya air mata dan belas kasih tetangga yang ada. Semoga genangan itu segera merenggut nyawaku