Di rumah sakit kamu bekerja, siang malam selalu siap dipanggil. Dokter, itulah profesimu. Hidup dan mati orang lain terkadang ada di tanganmu, rasa penyesalan saat tidak bisa menyelamatkan nyawa orang lain terkadang muncul pula di dalam benakmu. Di saat ada pandemi seperti saat ini, kamu tetap bekerja sepenuh hati, walau bisa saja kamu tertular dengan mudah. Namun, kamu memiliki pendirian yang sangat teguh. Kamu sadar bahwa hidup itu lebih bermakna jika bermanfaat bagi sesama.
Pagi ini pukul 7.00 kamu berangkat seperti biasa, karena tadi malam tidak ada panggilan darurat. Begitu kamu sampai di rumah sakit, kamu langsung mengecek pasien yang ada di bawah tanggung jawabmu, tak lupa kamu juga menggunakan APD. Namun, siapa sangka ternyata kamu mulai menunjukkan gejala yang sama dengan pasien yang kamu tangani, kamu tahu kalau kamu sudah tertular wabah yang mematikan. Kamu hubungi keluargamu untuk memberi tahu hal itu, kamu juga melapor ke atasan untuk isolasi mandiri. Kamu tidak mau ada yang merawat dirimu, kamu tidak mau orang lain dekat dengan dirimu. Kamu putuskan untuk pergi ke sebuah vila yang kamu miliki.
Sore ini kamu nikmati matahari tenggelam dengan kesendirian, tak seperti biasanya yang tertemani oleh keluargamu. Kali ini kamu putuskan untuk hidup sendiri, kamu berpesan pada keluargamu untuk menghubungimu setiap hari. Hal itu tentu disetujui oleh keluargamu dengan isak tangis, anak dan istrimu hanya bisa pasrah dan berdoa dengan keputusan yang kamu ambil. Tiga minggu kemudian saat istrimu menghubungimu tak lagi ada jawaban darimu.