
Timnas Indonesia telah menciptakan sejarah di Piala Asia 2023 dengan lolos ke babak 16 besar sebagai salah satu peringkat 3 terbaik. Hal itu mungkin cukup membanggakan tetapi entah mengapa dirimu terlihat murung setelah menyaksikan pertandingan antara Kyrgyzstan vs Oman yang berkesudahan dengan kedudukan 1-1. Hasil itulah yang memastikan Indonesia lolos ke babak 16 besar untuk pertama kalinya.
“Ah, sial!” umpatmu di depan televisi yang masih menyala.
Kamu tidak lagi peduli dengan televisi sehingga iklan berjalan sesuka hati tanpa henti.
Beberapa saat kemudian kamu ditelepon oleh seseorang. “Ya, besok kita ketemu!” katamu dengan nada yang tidak karuan..
Kamu berdiri dan membiarkan televisi tetap menyala. Kini televisi itu sudah menampilkan iklan lagi setelah pembawa acara berkata, “Kita akan kembali setelah beberapa pesan berikut untuk membahas babak 16 besar.”
Kamu keluar dari ruang televisi dan menuju kamar mandi. Begitu sampai wastafel, kamu langsung cuci muka dengan air dingin.
“Akan menghadapi Australia!” katamu setelah selesai cuci muka.
***
Pagi hari yang cerah kamu membuka pintu rumah dengan penuh semangat. Handuk sudah berada di pundak sebagai tanda bahwa kamu akan berolahraga pagi ini. Akan tetapi, beberapa saat kemudian ada seseorang yang melempar batu tepat di depanmu disertai kertas sebagai pembungkus batu yang tidak begitu besar itu. Dengan terlihat kesal, kamu mengambil batu tersebut dan membaca pembukusnya.
Setelah membaca kertas itu wajahmu terlihat memerah dan dipenuhi dengan amarah yang seolah siap meledak saat ini juga. “Kurang ajar!” teriakmu.
Kamu mengepalkan tangan, tetapi tidak lama kemudian kamu terlihat mengambil napas panjang untuk menenangkan diri. “Aku harus tenang,” katamu sambil menutup pintu.
Setelah berolahraga kamu terlihat begitu kelelahan dan tubuhmu dipenuhi oleh keringat. Saat hendak membuka pintu rumah lagi-lagi ada seseorang yang melempar batu seperti tadi. “Hai! Siapa itu?” teriakmu sambil memegangi punggung yang terkena lemparan batu.
Indonesia akan bertemu Australia di babak 16 besar. Itulah tulisan yang ada pada kertas pembungkus batu yang kedua.
“Aku tahu, Brengsek!” teriakmu.
Setelah berkata demikian kamu menutup pintu dengan keras lalu menuju kamar mandi.
Kamu tidak butuh waktu lama untuk sekadar membersihkan diri setelah berolahraga. Kamu terlihat lebih segar begitu keluar dari kamar mandi. Seolah tahu bahwa dirimu baru saja selesai mandi, ponsel yang ada di dalam saku celanamu berdering menandakan bahwa ada orang yang menelepon dirimu. “Dasar sialan! Enggak sabaran banget, sih!” umpatmu di depan pintu kamar mandi.
Kamu tidak memedulikan ponsel yang terus berdering di dalam saku. Walaupun kamu masih mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada, bukannya ke kamar untuk berganti pakaian, kamu justru menuju dapur.
Begitu sampai dapur kamu langsung duduk di depan meja makan lalu kamu mengambil ponsel yang sedari tadi kamu biarkan berdering tanpa henti.
“Ya, gue ke sana sebentar lagi!” Setelah berkata demikian kamu menutup telepon tanpa mendengar apa yang dikatakan oleh seseorang yang berada di seberang sana.
Kamu sarapan dengan sangat cepat. Terlihat jelas bahwa dirimu sangat terburu-buru, sudah seperti dikejar penagih utang saja. Selesai sarapan, kamu melihat jam yang ada di layar ponsel. Di sana terlihat bahwa jam yang terdapat pada layar ponsel itu menunjukkan pukul 08.15.
Kamu pun bergegas keluar dari dapur untuk menuju kamar dan berganti pakaian dengan secepat kilat. Penampilanmu sudah rapi hanya dalam waktu beberapa menit saja. Begitu kamu penutup pintu kamar ponselmu kembali berdering, seolah orang yang saat ini menelepon dirimu tahu segala gerak apa pun yang kamu lakukan.
“Buset!” ucapmu lalu mengangkat telepon itu. “Ya, tunggu lima belas menit lagi!”
Kamu berjalan menuju pintu depan dengan tanpa menutup panggilan. Kamu bawa dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan mengambil jaket yang tersampir di dekat pintu. Terdengar suara dari ponsel itu tetapi tidak jelas apa yang dikatakan oleh orang yang berada di sebrang sana.
Beberapa saat kemudian kamu sudah sampai di luar rumah dan siap untuk meluncur menuju tempat orang yang sedari tadi malam menelepon dirimu dengan mengendarai motor. Untuk keamanan, kamu pakai jaket, sarung tangan, sepatu, dan helm tentunya.
Benar, lima belas menit kemudian kamu sudah sampai di tempat teman-temanmu nongkrong. Mereka langsung menyambutmu dengan gelak tawa yang seolah mengejek dirimu.
“Gimana? Lu mau bilang apa?” Seseorang langsung memegang pundakmu sebelum kamu turun dari motor.
Tanpa menjawab kamu membuang tangan temanmu dari pundak. Setelah itu kamu melepas helm dan meletakkannya di stang motor.
Temanmu tadi berdiri di samping motor. Dirimu turun dari motor dengan tanpa menggubris temanmu itu sehingga membuatnya terlihat sangat kesal.
Setelah turun dari motor, kamu langsung menuju gerombolan teman-temanmu yang asyik duduk di gazebo. “Apa-apaan kalian?” teriakmu sambil memegang kerah baju salah satu temanmu.
“Hei! Slow!” Temanmu yang tadi memegang pundakmu kini dia memegang tanganmu dan berusaha melepaskan cengkraman yang kamu lakukan. Akan tetapi, kamu hanya melihatnya dengan tajam tanpa melepaskan cengkramanmu.
Beberapa waktu kemudian temanmu yang kerah bajunya kamu cengkraman akhirnya berontak juga. Dia membuang tanganmu dengan kasar saat dirimu masih lengah karena menatap tajam temanmu yang berada di samping. Kamu kaget, tetapi hanya berdiam diri saat temanmu yang kerah bajunya tadi kamu cengkraman kini bangkit berdiri tepat di depanmu. “Apa-apaan apa maksud lu?” Temanmu itu berkata dengan sangat keras sehingga membuatmu bergetar dan mundur beberapa langkah.
“Setelah mengatur napas, dirimu bertanya, “Kalian kan yang melempar batu ke rumah gue?”
“Kalau iya, kenapa?” Temanmu yang tadi memegang pundakmu justru balik bertanya.
“Mau kalian apa?” teriakmu.
“Heh! Indonesia lolos dan akan melawan Australia di babak 16 besar. Kemarin lu bilang bahwa Indonesia tidak mungkin bisa lolos hanya karena lu percaya prediksi YouTuber enggak jelas,” jelas temanmu yang tadi kamu pegang kerah bajunya.
Tiba-tiba semua orang yang ada di sana bertepuk tangan sehingga menimbulkan suara yang meriah. Akan tetapi, tepuk tangan yang mereka lakukan seolah menghina dirimu yang tak lagi bisa berkutik.
“Tapi enggak perlu pakai lempar batu juga kali!” teriakmu sambil menatap temanmu yang memberi penjelasan tadi.
“Lu pantas digituin, karena lu udah ngeremehin negara lu sendiri. Lu mau apa sekarang? Lu bilang STY enggak pecus? Emang lu bisa apa? Hah!” Temanmu semakin membuatmu terpojok.
Saat-saat seperti ini tidak ada satu pun orang yang berada di pihakmu. Kamu tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah ini karena kamu memang hanya bisa berkomentar seperti pengamat sepakbola pada umumnya. Sayangnya lagi, kamu bukanlah seorang pengamat sepakbola yang kompeten karena dirimu hanyalah seorang penonton, tidak lebih dari itu.
“Sudah, sudah. Duduk sini!” kata temanmu yang lain sambil memberi ruang duduk di gazebo besar dekat sungai tersebut.
“Mau gue ceburin ke sungai biar lu waras?” kata temanmu yang tadi kerah bajunya kamu cengkraman.
Kamu hanya bisa menunduk tanpa bisa menjawab.
“Bola itu bundar, jadi apa pun bisa terjadi di dalam dunia sepakbola. Kita tentu masih ingat saat Arab Saudi di luar dugaan bisa mengalahkan Argentina hanya dengan 30% penguasaan bola,” terang temanmu yang tadi memberi tempat duduk.
Kamu diam, sama sekali tidak memberi respons apa pun.
“Siapa pun pelatih Timnas Indonesia kita harus mendukung dengan sepenuh hati dan jangan pernah pesimis. Kita ini hanya bisa menonton. Mereka yang bermain di lapangan tentulah sudah berjuang sekuat tenaga dan berharap agar kita mendoakan mereka.” Temanmu yang satu ini sangat bijak, bahkan sampai membuat matamu berbinar-binar, seolah ada penyesalan di sana.