Rinduku Berakhir Tragis

Pagi ini aku berangkat sekolah seperti biasa dengan naik bus sekolah. Bus melaju dengan sangat pelan di tengah kemacetan Ibu Kota Jakarta. Ohya namaku Annisa, biasa dipanggil Nisa. Aku kelas 12 IPA di salah satu SMA di Jakarta.
“Nis, loe kenapa?” sapa Dina kepadaku.
“Enggak apa-apa,” jawabku.
“Kok murung gitu, enggak biasanya deh loe kayak gini,” korek Dina.
Aku hanya diam. Entah apa saja yang ada di dalam benakku. Banyak pikiran? Tidak, pikiran, hati dan semuanya hanya ingat dia. Ya, dia yang ada di negeri orang untuk melanjutkan pendidikan.
Greek!
Bus berhenti.
Entah apa saja yang dibicarakan Dina, yang jelas aku harus turun dari bus. Dina sahabatku memegang tanganku dan bilang, “sini gue tuntun, loe loyo gitu.”
“Terima kasih,” ucapku singkat.
Kemudian aku jalan begitu saja ke dalam kelas, ada suara terdengar jelas di telingaku. “Anton tidak akan kembali!”
Aku tidak tahu suara siapa itu, yang jelas Anton itu adalah sosok yang sangat aku rindu, senyumnya, canda tawanya dan semua tentang dia aku rindu. Saat aku di dalam kelas ternyata diikuti oleh Dina sahabat terbaikku.
“Nis, loe kenapa sih? Kalau loe ada masalah cerita dong!”
“Gue ingat Anton, Din.”
“Anton pacar loe yang di Belanda itu?”
Tak terasa pak Yetno masuk ke dalam kelas.
“Selamat pagi anak-anak yang bukan lagi anak-anak,” begitu sapa pak Yetno.
Aku tidak bisa fokus pada pelajaran sejarah, padahal pelajaran ini favoritku. Entah ada apa dengan pikiranku? Entah ada apa dengan firasatku? Entah ada apa dengan hatiku? Semua tak menentu. Aku ingin Anton kembali pulang ke Indonesia. Tapi, suara itu terus menggema di telingaku.
Entah apa saja yang terjadi tadi di sekolahan, yang jelas sekarang aku sudah ada di dalam bus sekolah lagi.
“Nis, loe waras enggak?” tanya Dina.
“Waraslah,” jawabku lemah.
“Terus loe tadi kenapa enggak ke kantin, enggak keluar kelas waktu jam istirahat?”
“Ha? Gue enggak ke kantin?”
“Ya, loe cuma diam di dalam kelas. Kalau loe kangen Anton, telepon kek, chat kek.”
Greek
Bus berhenti di depan rumahku yang membuatku harus turun dan menghentikan obrolan dengan Dina. Setelah Dina menyuruh untuk menelepon Anton, aku tidak tahu dia ngomong apa lagi.
Aku langsung masuk rumah yang hanya ada mbak Nuril, satu-satunya ART di rumahku. Karena orang tuaku masih di luar kota. Aku pun langsung masuk kamar dan rebahan, ingat kata Dina tadi di dalam bus. Aku langsung cek WhatsApp dan aku lihat kontak Anton, yang tertera “Terakhir dilihat kemarin”
Aku pun langsung menelepon Anton.
“Halo!” sapaku.
“Halo! Ini siapa?” Suara perempuan terdengar serak.
Aku kaget setengah mati, kok perempuan? Pikirku.
“Ini Nisa, maaf Anda siapa?” tanyaku balik.
“Oh Nisa, ini ibunya Anton.”
“Antonnya mana, Bu?” tanyaku.
“Anton sudah tidak ada lagi, Nak. Dia sudah tenang di sana.”
Air mataku langsung tumpah, entah apa saja yang diomongkan ibunya Anton, Yang jelas aku hanya bisa nangis dan nangis, hingga akhirnya aku harus dirawat di rumah sakit karena frustrasi.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai