Resensi Novel Acts of Love

Judul Buku : Acts of Love
Penulis : Layli Dinata
Penerbit : AE Publishing
Tahun Terbit : 2025
Tempat Terbit : Malang, Jawa Timur, Indonesia
ISBN : 978-634-209-249-1
Jumlah Halaman: 345
Ukuran Buku : 14×20 cm
Harga Buku :

Blurb :
Meli—gadis muda yang menapaki negeri asing demi mimpi dan keluarga.
Langkahnya tertatih di antara harapan dan kenyataan yang tidak selalu bersahabat.
Yuan Zean—pria berdarah Tionghoa yang datang di saat dunia seolah runtuh, bukan dengan janji manis, melainkan dengan ketenangan yang menenangkan luka.
Dalam diam dan jarak, mereka berbagi bahasa yang tak terucap—bahasa cinta yang hanya bisa dimengerti oleh hati yang pernah tersakiti.
Mampukah Meli terus melangkah, atau justru terjebak dalam perasaan yang tak pernah sempat ia pahami sepenuhnya?

Isi :
Based on true story atau berdasarkan kisah nyata. Novel ini berkisah tentang seorang gadis muda yang bernama Meli. Ia bekerja di Singapura sebagai TKW demi keluarga dan mimpi.
Alur cerita begitu mengalir. Aku tidak tahu bagaimana perasaan penulis saat menulis novel ini, karena cerita ini merupakan kisah nyatanya sendiri. Lega atau justru penuh dengan linangan air mata.
Mengapa demikian? Karena ceritanya begitu mengharukan. Bayangkan saja, Meli yang sebenarnya belum cukup umur untuk bekerja di luar negeri, umurnya dimanipulasi agar bisa lolos imigrasi. Ia harus berjuang seorang diri di luar negeri tanpa keluarga atau kerabat dekat yang mendampingi. Ia hanya berteman dengan sesama pekerja migran dari berbagai negara. Dari sini Meli juga mengenal cinta yang diberikan oleh seorang pria yang berasal dari Tiongkok. Perbedaan bahasa di antara mereka memberi warna tersendiri di dalam cerita. Bikin gemes, terharu, dan bahkan memberikan wawasan baru untuk kita sebagai pembaca. Tapi, itu tidak bertahan lama, karena Yuan Zean, pria Tiongkok itu, tiba-tiba pulang ke negaranya dan meninggalkan Meli kembali sendiri. Hancur, itulah yang dirasakan Meli. Di saat ia merasakan kehangatan dan kasih sayang yang tulus, siapa sangka sang pemberi pelita justru lenyap bagai ditelan bumi. Sungguh lengkap kehancuran yang dirasakan oleh Meli, selain ia harus tahan dengan perlakuan majikan yang terkadang tidak manusiawi, ia juga harus kehilangan cinta yang tulus.
Bagaimana akhir dari kisahnya? Silakan beli bukunya.


Resensi Novel Muhasabah Cinta

Judul Buku : Muhasabah Cinta
Penulis : Nura
Penerbit : AE Publishing
Tahun Terbit : 2024
Tempat Terbit : Malang
QRCBN : 62-218-074-273
Jumlah Halaman: 185
Ukuran Buku : 14×20
Harga Buku : 92.999

Blurb :
Aira Medina, putri seorang kiai yang begitu tawadhu terhadap abah dan uminya, termasuk urusan jodoh.
Ia bukan dijodohkan dengan seorang gus atau pemuka agama seperti ning pada umumnya, melainkan dengan seorang prajurit abdi negara.
Bagaimana kisah cinta yang terjalin di antara yang menikah karena dijodohkan?
Badai apa saja yang harus mereka hadapi selama berlayar mengarungi bahtera rumah tangga?

Isi :
Saat membaca awal-awal novel ini aku merasa, kok gue banget ya. Hahaha. Itu tidak lain karena Adnan, selaku tokoh utama pria di dalam novel ini digambarkan sebagai seorang playboy yang suka gonta-ganti pacar. Padahal, kalau dilihat lebih dalam, Adnan hanya sedang mencari cinta sejatinya. Bahkan, ia berpegangan tangan dengan cewek saja tidak mau. Aku pun pernah di posisi itu. Wkwkwkw. Bedanya kalau Adnan di asrama militer, aku di asrama pesantren. Tidak hanya tentara yang ada playboy -nya, santri juga ada, dan akulah orangnya. Wkwkwkw.
Back to novel. Novel ini mengisahkan seorang abdi negara yang mana dia ini dikenal sebagai playboy kelas kakap. Hal itu tentu wajar, cewek mana yang bisa menolak pria gagah, tampan, dan berpangkat?
Tapi seperti yang kukatakan di atas bahwa sebenarnya Adnan alias sang tentara hanya mencari cinta sejati. Tapi ya itu, akibatnya banyak cewek yang sakit hati tanpa dia sadari.
Setelah beberapa lama, akhirnya takdir mempertemukan Adnan dengan Aira, yang merupakan seorang anak kiai, yang sangat mandiri dan cantik. Pada awalnya Adnan mengira bahwa Aira tidak jauh beda dengan cewek-cewek pada umumnya. Tapi ternyata dia salah, Aira-lah yang dia cari selama ini. Aira bisa membuat Adnan benar-benar jatuh cinta, begitu juga sebaliknya.
Di luar dugaan, Adnan dan Aira dijodohkan oleh kedua orang tuanya sejak kecil. Lalu bagaimana?
Ah, aku tidak akan melanjutkan ceritanya. Tapi begini, novel ini menggabungkan antara cinta, pesantren, dan militer. Pengetahuan penulis tentang dunia militer cukup luas, sehingga kita yang membaca novel ini menjadi lebih tahu sedikit banyak tentang dunia militer. Selain itu, kita juga dibuat senyum-senyum sendiri dengan kisah Adnan dan Aira yang sangat romantis disertai dengan bumbu islami di dalamnya.
Alur cerita yang digunakan dalam novel ini adalah alur cepat. Ya, Adnan dan Aira tidak hanya dijodohkan, tetapi juga sudah membina rumah tangga. Awalnya aku berpikir bahwa setelah mereka menikah novel selesai, tetapi ternyata konflik utamanya justru terjadi setelah mereka menikah. Konfliknya apa? Silakan pesan bukunya.

Kyrgyzstan vs Oman

Timnas Indonesia telah menciptakan sejarah di Piala Asia 2023 dengan lolos ke babak 16 besar sebagai salah satu peringkat 3 terbaik. Hal itu mungkin cukup membanggakan tetapi entah mengapa dirimu terlihat murung setelah menyaksikan pertandingan antara Kyrgyzstan vs Oman yang berkesudahan dengan kedudukan 1-1. Hasil itulah yang memastikan Indonesia lolos ke babak 16 besar untuk pertama kalinya.

“Ah, sial!” umpatmu di depan televisi yang masih menyala.

Kamu tidak lagi peduli dengan televisi sehingga iklan berjalan sesuka hati tanpa henti.

Beberapa saat kemudian kamu ditelepon oleh seseorang. “Ya, besok kita ketemu!” katamu dengan nada yang tidak karuan..

Kamu berdiri dan membiarkan televisi tetap menyala. Kini televisi itu sudah menampilkan iklan lagi setelah pembawa acara berkata, “Kita akan kembali setelah beberapa pesan berikut untuk membahas babak 16 besar.”

Kamu keluar dari ruang televisi dan menuju kamar mandi. Begitu sampai wastafel, kamu langsung cuci muka dengan air dingin.

“Akan menghadapi Australia!” katamu setelah selesai cuci muka.

***

Pagi hari yang cerah kamu membuka pintu rumah dengan penuh semangat. Handuk sudah berada di pundak sebagai tanda bahwa kamu akan berolahraga pagi ini. Akan tetapi, beberapa saat kemudian ada seseorang yang melempar batu tepat di depanmu disertai kertas sebagai pembungkus batu yang tidak begitu besar itu. Dengan terlihat kesal, kamu mengambil batu tersebut dan membaca pembukusnya.

Setelah membaca kertas itu wajahmu terlihat memerah dan dipenuhi dengan amarah yang seolah siap meledak saat ini juga. “Kurang ajar!” teriakmu.

Kamu mengepalkan tangan, tetapi tidak lama kemudian kamu terlihat mengambil napas panjang untuk menenangkan diri. “Aku harus tenang,” katamu sambil menutup pintu.

Setelah berolahraga kamu terlihat begitu kelelahan dan tubuhmu dipenuhi oleh keringat. Saat hendak membuka pintu rumah lagi-lagi ada seseorang yang melempar batu seperti tadi. “Hai! Siapa itu?” teriakmu sambil memegangi punggung yang terkena lemparan batu.

Indonesia akan bertemu Australia di babak 16 besar. Itulah tulisan yang ada pada kertas pembungkus batu yang kedua.

“Aku tahu,  Brengsek!” teriakmu.

Setelah berkata demikian kamu menutup pintu dengan keras lalu menuju kamar mandi.

Kamu tidak butuh waktu lama untuk sekadar membersihkan diri setelah berolahraga. Kamu terlihat lebih segar begitu keluar dari kamar mandi. Seolah tahu bahwa dirimu baru saja selesai mandi, ponsel yang ada di dalam saku celanamu berdering menandakan bahwa ada orang yang menelepon dirimu. “Dasar sialan! Enggak sabaran banget, sih!” umpatmu di depan pintu kamar mandi.

Kamu tidak memedulikan ponsel yang terus berdering di dalam saku. Walaupun kamu masih mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada, bukannya ke kamar untuk berganti pakaian, kamu justru menuju dapur.

Begitu sampai dapur kamu langsung duduk di depan meja makan lalu kamu mengambil ponsel yang sedari tadi kamu biarkan berdering tanpa henti.

“Ya, gue ke sana sebentar lagi!” Setelah berkata demikian kamu menutup telepon tanpa mendengar apa yang dikatakan oleh seseorang yang berada di seberang sana.

Kamu sarapan dengan sangat cepat. Terlihat jelas bahwa dirimu sangat terburu-buru, sudah seperti dikejar penagih utang saja. Selesai sarapan, kamu melihat jam yang ada di layar ponsel. Di sana terlihat bahwa jam yang terdapat pada layar ponsel itu menunjukkan pukul 08.15.

Kamu pun bergegas keluar dari dapur untuk menuju kamar dan berganti pakaian dengan secepat kilat. Penampilanmu sudah rapi hanya dalam waktu beberapa menit saja. Begitu kamu penutup pintu kamar ponselmu kembali berdering, seolah orang yang saat ini menelepon dirimu tahu segala gerak apa pun yang kamu lakukan.

“Buset!” ucapmu lalu mengangkat telepon itu. “Ya, tunggu lima belas menit lagi!”

Kamu berjalan menuju pintu depan dengan tanpa menutup panggilan. Kamu bawa dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan mengambil jaket yang tersampir di dekat pintu. Terdengar suara dari ponsel itu tetapi tidak jelas apa yang dikatakan oleh orang yang berada di sebrang sana.

Beberapa saat kemudian kamu sudah sampai di luar rumah dan siap untuk meluncur menuju tempat orang yang sedari tadi malam menelepon dirimu dengan mengendarai motor. Untuk keamanan, kamu pakai jaket, sarung tangan, sepatu, dan helm tentunya.

Benar, lima belas menit kemudian kamu sudah sampai di tempat teman-temanmu nongkrong. Mereka langsung menyambutmu dengan gelak tawa yang seolah mengejek dirimu.

“Gimana? Lu mau bilang apa?” Seseorang langsung memegang pundakmu sebelum kamu turun dari motor.

Tanpa menjawab kamu membuang tangan temanmu dari pundak. Setelah itu kamu melepas helm dan meletakkannya di stang motor.

Temanmu tadi berdiri di samping motor. Dirimu turun dari motor dengan tanpa menggubris temanmu itu sehingga membuatnya terlihat sangat kesal.

Setelah turun dari motor, kamu langsung menuju gerombolan teman-temanmu yang asyik duduk di gazebo. “Apa-apaan kalian?” teriakmu sambil memegang kerah baju salah satu temanmu.

“Hei! Slow!” Temanmu yang tadi memegang pundakmu kini dia memegang tanganmu dan berusaha melepaskan cengkraman yang kamu lakukan. Akan tetapi, kamu hanya melihatnya dengan tajam tanpa melepaskan cengkramanmu.

Beberapa waktu kemudian temanmu yang kerah bajunya kamu cengkraman akhirnya berontak juga. Dia membuang tanganmu dengan kasar saat dirimu masih lengah karena menatap tajam temanmu yang berada di samping. Kamu kaget, tetapi hanya berdiam diri saat temanmu yang kerah bajunya tadi kamu cengkraman kini bangkit berdiri tepat di depanmu. “Apa-apaan apa maksud lu?” Temanmu itu berkata dengan sangat keras sehingga membuatmu bergetar dan mundur beberapa langkah.

“Setelah mengatur napas, dirimu bertanya, “Kalian kan yang melempar batu ke rumah gue?”

“Kalau iya, kenapa?” Temanmu yang tadi memegang pundakmu justru balik bertanya.

“Mau kalian apa?” teriakmu.

“Heh! Indonesia lolos dan akan melawan Australia di babak 16 besar. Kemarin lu bilang bahwa Indonesia tidak mungkin bisa lolos hanya karena lu percaya prediksi YouTuber enggak jelas,” jelas temanmu yang tadi kamu pegang kerah bajunya.

Tiba-tiba semua orang yang ada di sana bertepuk tangan sehingga menimbulkan suara yang meriah. Akan tetapi, tepuk tangan yang mereka lakukan seolah menghina dirimu yang tak lagi bisa berkutik.

“Tapi enggak perlu pakai lempar batu juga kali!” teriakmu sambil menatap temanmu yang memberi penjelasan tadi.

“Lu pantas digituin, karena lu udah ngeremehin negara lu sendiri. Lu mau apa sekarang? Lu bilang STY enggak pecus? Emang lu bisa apa? Hah!” Temanmu semakin membuatmu terpojok.

Saat-saat seperti ini tidak ada satu pun orang yang berada di pihakmu. Kamu tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah ini karena kamu memang hanya bisa berkomentar seperti pengamat sepakbola pada umumnya. Sayangnya lagi, kamu bukanlah seorang pengamat sepakbola yang kompeten karena dirimu hanyalah seorang penonton, tidak lebih dari itu.

“Sudah, sudah. Duduk sini!” kata temanmu yang lain sambil memberi ruang duduk di gazebo besar dekat sungai tersebut.

“Mau gue ceburin ke sungai biar lu waras?” kata temanmu yang tadi kerah bajunya kamu cengkraman.

Kamu hanya bisa menunduk tanpa bisa menjawab.

“Bola itu bundar, jadi apa pun bisa terjadi di dalam dunia sepakbola. Kita tentu masih ingat saat Arab Saudi di luar dugaan bisa mengalahkan Argentina hanya dengan 30% penguasaan bola,” terang temanmu yang tadi memberi tempat duduk.

Kamu diam, sama sekali tidak memberi respons apa pun.

“Siapa pun pelatih Timnas Indonesia kita harus mendukung dengan sepenuh hati dan jangan pernah pesimis. Kita ini hanya bisa menonton. Mereka yang bermain di lapangan tentulah sudah berjuang sekuat tenaga dan berharap agar kita mendoakan mereka.” Temanmu yang satu ini sangat bijak, bahkan sampai membuat matamu berbinar-binar, seolah ada penyesalan di sana.

Tentang Luka yang Kusimpan Sendiri

Judul Buku : Tentang Luka yang Kusimpan Sendiri
Penulis : Kopioppi
Penerbit : Syalmahat Publishing
Tahun Terbit : 2024 (cetakan kelima)
Tempat Terbit : Semarang, Jawa Tengah
ISBN : 978-623-5269–58-2
Jumlah Halaman: Vi+142
Ukuran Buku : 14X20 cm
Harga Buku : 45.500

Blurb :
Tak ada yang benar-benar bahagia, tak ada hidup yang sepenuhnya berisi kemudahan. Setiap orang punya lukanya sendiri, setiap orang punya kesulitannya sendiri.

Ada yang memilih menyimpan lukanya sendirian karena tak mau merepotkan siapa pun, ada yang memilih menikmati luka sendirian karena berpikir tak akan ada yang benar-benar peduli. Orang lain hanya akan menghakimi atau justru berbahagia di atas penderitaan yang dia alami.

Kita punya hak untuk bersedih, kita punya hak untuk memilih menyimpan atau berbagi rasa sakit. Hanya saja, kali ini mari sama-sama memahami bahwa kita tak sendiri. Setiap orang di bumi ini punya lukanya sendiri. Tak perlu membandingkan luka siapa yang paling hebat, kita hanya perlu bertahan dari luka kita sendiri dan kembali bangkit meski aku paham itu adalah hal yang sulit.

Isi :
Ini merupakan buku senandika kedua yang kubaca. Aku hanya butuh waktu satu jam untuk membaca dan menikmati isinya. Walaupun demikian, menurutku isinya tidak bisa dipandang sebelah mata. Itu bisa dilihat dari berapa kali buku ini telah dicetak, yaitu sebanyak lima kali. Itu jelas menunjukkan bahwa buku ini cukup banyak yang meminati.

Dari segi isi memang sangat singkat, tetapi makna yang terkandung pada setiap halamannya menunjukkan sesuatu yang sering kita alami saat menjalani hidup. Mulai dari hal kecil, seperti omongan orang yang ngawur tentang kita, sampai masalah klasik yang pelik, yakni masalah keluarga. Semua itu ditulis dengan singkat, rapi, dan padat, yang sangat mudah untuk kita pahami.

Kalau ditanya hal apa yang bisa kita dapatkan dari buku ini? Menurutku pribadi, tidak banyak hal besar yang disuguhkan di dalam buku ini. Akan tetapi, buku ini mampu membuat kita melongo karena kita merasa “kok gue banget ya”. Kalau itu aku berani menjamin, sedikit banyak kita akan merasa demikian saat kita membaca buku ini.

Dari segi penulisan sangat rapi, tidak seperti buku Syalmahat Publishing yang pernah kubaca sebelumnya. Ya, walaupun masih ada tipo sedikit di satu dua tempat tetapi itu wajar. Setidaknya sudah jauh lebih baik jika dibandingkan dengan buku Self Healing with Quran yang juga terbitan Syalmahat Publishing yang pernah kuulas sebelumnya.

Menurutku, buku ini cocok bagi mereka yang merasa sendiri, sedih, terluka, dan tidak tahu harus curhat kepada siapa. Buku ini seolah menjadi teman setia yang datang dari dimensi lain yang bisa mengatakan “iya” terhadap segala keluh kesah yang kita sedang rasakan.

Tahu

Judul Buku : Tahu
Penulis : Khairotin Najmah
Penerbit : Elsage Publisher
Tahun Terbit : 2021
Tempat Terbit : Surakarta
Jumlah Halaman: 222
Harga Buku :70.000


Blurb:

“Tiada hari tanpa tahu.” Slogan andalan yang selalu diucapkan Kenzie sebagai bentuk ketidaksukaannya kepada tahu yang menjadi sumber mata pencaharian keluarganya.

Berbeda dari Kenzie, tahu justru sangat penting bagi Deriez—sang kakak. Bahkan kepada tahu, dia menggantungkan semua cita-citanya.

Apakah sebuah makanan bernama tahu itu mampu tahu mewujudkan semua mimpi Deriez? Atau benar kata Kenzie, tahu hanyalah tahu yang tidak bisa mewujudkan apa-apa?



Isi resensi:

“Tahu” satu kata yang bisa membuat orang bertanya-tanya apa arti dari kata tersebut, makanan yang dikenal dengan harga murah atau untuk menunjukkan bahwa kita sudah mengerti sesuatu? Ya, setidaknya dua arti itu yang sangat familier di telinga kita. Namun, sebenarnya di KBBI ternyata arti kata “tahu” tidak hanya dua tersebut. Eh, kok malah bahas kosakata. Oke, kembali ke topik. Saat awal tahu tentang buku ini aku mengira bahwa arti kata “tahu” pada judul buku ini adalah “tahu” yang memiliki arti sama seperti kata “tahu” pada awal kalimat ini. Namun, ternyata aku salah. Ya, ternyata arti kata “tahu” pada buku ini adalah tahu yang biasa kita makan. Mohon maaf bagi yang alergi terhadap tahu, berarti kamu tidak termasuk orang-orang yang kumaksud. Eh, bercanda. Wkwkwkw.

Aku tentu bukan tanpa alasan mengira bahwa kata “tahu” pada judul berarti kita mengerti sesuatu karena aku mengenal dengan baik siapa penulisnya. Bukan melebih-lebihkan, tetapi dia memang seorang guru agama, jadi wajar apabila aku berpikir bahwa novel ini tentang sesuatu yang mungkin bisa membuat kita mengerti sesuatu yang sebelumnya kita tidak pernah atau belum pernah tahu.

Walaupun aku salah mengira arti kata pada judul buku ini, tetapi tidak dengan isinya. Ya, aku ini termasuk orang yang tidak begitu menyukai bacaan fiksi. Aku lebih suka nonfiksi sebagai bacaan. Akan tetapi, saat membaca buku ini aku bisa sangat menikmati. Mungkin tidak banyak ilmu pengetahuan yang diselipkan oleh penulis di dalam buku ini, tetapi ada banyak poin penting di dalam buku ini yang bisa kita jadikan pelajaran hidup. Ya, bagiku pribadi, kegiatan membaca buku tidak hanya untuk hiburan, melainkan untuk mengambil manfaat dari buku tersebut lalu kita aplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Mungkin aku bukan orang yang suka dengan novel fiksi, tetapi aku cukup paham tentang novel fiksi, bahkan aku merupakan seorang mentor menulis novel fiksi. Oleh karena itu, aku sangat paham tentang novel. Di dalam novel ini penulis menggunakan POV 3 dengan rapi, twist atau kejutan yang dibuat di akhir buku juga tidak terduga. Selain itu, poin utama dari buku ini adalah kisah perjuangan seorang anak manusia yang ingin mencapai cita-citanya yang sepertinya mustahil untuk dicapai.

Novel ini mengisahkan tentang Deriez, pemuda anak penjual tahu, yang memiliki ambisi yang besar untuk bisa melanjutkan studi di PTN. Tentu saja hal tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan, saat Deriez masih duduk di bangku SMA, ia harus menerima kenyataan bahwa ayahnya yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga meninggal dunia. Sebagai anak pertama, Deriez juga berkewajiban untuk membimbing dan menjadi sosok tua bagi adik-adiknya.

Tidak hanya itu, ia juga memiliki seorang nenek yang tidak pernah mendukung keputusan dan impiannya. Namun, Deriez tidak pernah patah semangat atau putus asa dengan semua ujian hidup yang harus ia lewati. Tidak hanya masalah keluarga, sebagai remaja, ia juga tentu memiliki masalah asmara.

Bagaimana kisah selengkapnya?
Silakan pesan bukunya sekarang juga!
Aku rasa buku ini akan membuat pembaca tidak sadar dengan air matanya yang tiba-tiba jatuh membasahi pipi.

Self Healing

Judul Buku : Self Healing With Qur’an
Penulis : Ummu Kalsum Iqt
Penerbit :Syalmahat Publishing
Tahun Terbit : 2022
Tempat Terbit : Semarang
ISBN : 9786235269016
Jumlah Halaman: 186
Ukuran Buku : 14X20cm
Harga Buku : 53.000 (di Gramedia saat resensi ini ditulis)


Blurb:
Betapa banyak dari kita yang mencari ketenangan selain pada Allah dan Al-Quran. Kita beriomba enumpahkan rasa galau pada manusia. Haus akan perhatiarn orang orang, hingga caper di dunia nyata atau dunia maya. Menjadikan harta, tahta, dan cinta sebagai tolak ukur bahagla.

Saat ayat-Nya dilantunkan, kita terperanjat karena seolah-olah baru pertama kali mendengarkan. Scroing medsos dan online shop terasa mampu mengusir kegalauan, daripada menjelajahi lembaran Kalam yang mulia. Al-Quran semakin asing, maka wajarlah jika kejahatan makin merajai, kegalauan semakin bertebaran di muka
bumi. Berbondong-bondong memasuki rumah terapi, rumah sakit jiwa, berlibur untuk menyegarkan pikiran, dan lain sebagainya. Nyatanya, ketenangan jiwa kita ada dalam Al-Quran.

Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (A-Quran) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus:
57)

Buku ini, siap mengajak Anda untuk self healing bersama A-Quran. Menguatkan jiwa melalui kisah-kisah inspiratif, membasuh luka dengan firman-Nya, serta meng-charge iman bersama kalimat
motivasi. Selamat membaca!

Isi :
Self healing merupakan penyembuhan diri, biasanya terkait tekanan batin atau yang semacamnya. Banyak di antara kita yang memahami healing sebagai jalan-jalan atau bersenang-senang. Kesalahan arti kata seperti itu sudah sangat umum terjadi di tengah masyarakat karena banyak di antara kita yang asal ikut apa kata orang lain. Walaupun sebenarnya itu juga tidak 100% salah jika jalan-jalan tersebut bisa membuat pikiran kita menjadi lebih tenang dan bisa membuat kondisi mental kita menjadi lebih baik.

Buku ini seolah menampar kita yang sedikit-sedikit bilang healing dengan mudah di media sosial dengan memamerkan kemampuan kita untuk jalan-jalan. Sebenarnya hal itu bukannya menjadi penyembuh, tetapi justru menjadi penyakit hati, berupa sifat pamer.
Di dalam buku ini kita diajarkan bagaimana self healing yang baik, tetapi penulis juga tidak menggurui harus A atau B. Penulis hanya menceritakan kisah-kisah inspiratif yang ada di dalam Al-Qur’an dan para sahabat Rasulullah. Jadi, butuh kepekaan bagi pembaca untuk tahu di mana letak self healing yang dimaksud.

Dengan kisah-kisah yang diceritakan disertai argumen penulis, insyaallah bisa membuat kita berpikir ulang bahwa self healing itu sebenarnya mudah, dan murah tentunya. Kita tidak harus jalan-jalan ke sana kemari untuk menghabiskan uang yang belum bisa membuat diri kita menjadi lebih baik

Dari penulisan juga ringan, tidak membuat dahi mengkerut saat membacanya. Walaupun saya bilang di atas bahwa buku ini membutuhkan kepekaan pembaca. Namun, dari segi kalimat dan kata yang digunakan, cukup mudah bagi pembaca untuk mencernanya. Sebagai pembaca, yang harus kita lakukan adalah mencari di mana letak self healing yang dimaksud, dan itu menurut saya bukanlah hal yang susah.

Walaupun begitu banyak manfaat dari buku ini, bukan berarti tanpa adanya kekurangan. Di dunia ini memang tidak ada sesuatu yang sempurna. Oleh sebab itu, buku ini juga memiliki kekurangan. Kekurangan dari buku ini yang saya tangkap adalah, masih banyaknya kesalahan dalam penulisan. Akan tetapi, kekurangan itu hanya mengurangi sedikit kualitas dari buku ini. Jika kekurangan tersebut dibandingkan dengan kelebihan dan manfaat dari buku ini, jelaslah tidak sebanding. So, tidak ada ruginya jika kalian membeli buku ini. Apalagi sekarang sedang diskon di Gramedia.

Rakus

Malam sudah larut, orang-orang sudah pada tidur. Lampu pun sudah pada padam. Kamu keluar dari persembunyian di bawah tong sampah, dan memasuki salah satu rumah.

Setelah berada di dalam rumah, kamu berlari ke sana kemari. Namun, tidak kunjung mendapat tikus yang menjadi buruanmu. Padahal, tikus di rumah ini terlihat cukup banyak berkeliaran di mana-mana. Namun, saat kamu mulai mengejar, tikus-tikus itu selalu bisa lolos darimu.

“Ah, capek. Mungkin gue yang udah tua, ngejar si tikus aja kagak bisa. Mana perut gue laper lagi.” Setelah monolog seperti itu, kamu melihat kecoa berjalan dengan santainya. Mungkin kecoa itu berpikir bahwa tidak mungkin akan kamu santap. Namun ternyata, begitu kecoa itu sampai di depanmu, kamu langsung tangkap dan menelannya dengan utuh.

Hujan Menjadi Saksi

Pagi ini mentari bersinar dengan indahnya. Ia seolah mengiringi langkahmu yang sedang berjalan kaki menuju sebuah taman yang indah. Kamu membawa sekuntum mawar di tangan dengan berhati-hati karena tentu kamu tidak ingin kalau mawar itu sampai rusak.

Berselang beberapa langkah kemudian, mendung mulai menutupi langit. Sinar mentari pagi yang tadinya cerah pun kini hilang sudah. Namun, kamu tetap berjalan menuju taman yang sudah kamu tuju. Hujan pun turun di saat dirimu belum sampai di taman yang indah itu. Bukannya kamu berlindung atau berteduh, kamu terus berjalan dan tetap melindungi bunga mawar yang kamu bawa.

Betapa bahagianya dirimu ketika melihat gadis cantik yang duduk manis di taman di tengah guyuran hujan. Terlihat jelas, baju gadis itu basah kuyup oleh air hujan yang terus turun pada pagi hari ini. Kamu berjalan ke arah gadis itu dengan perlahan tapi pasti. Sesampainya di tempat gadis cantik itu, kamu serahkan bunga mawar yang kamu bawa, lalu bilang, “I love you.” Gadis itu pun menjawab, “I love you too.”

Main Kelereng

Hari ini seperti biasa. Hilman pergi bermain ke lapangan desa untuk bermain kelereng bersama teman-temannya.
Hilman merupakan anak lelaki kelas 3 SD. Sementara temannya ada yang kelas 4 dan 5 SD, Hilman termasuk yang paling kecil.
Hari ini yang berkumpul di lapangan desa ada beberapa anak.
Salah satunya Doni anak kelas 5 SD yang berbadan gempal.
“Hilman bawa kelereng berapa?” tanya Doni.
“Sepuluh, Kak,” jawab Hilman kepada Doni.
“Aku dong, bawa 30 kelereng.”
Hilman hanya diam melihat kelereng yang dibawa Doni.
“Kamu mau main permainan apa?” tanya Doni.
“Anak panah,” jawab Hilman dengan antusias.
“Setuju!” sahut anak yang lain.
“Oke. Tan, kamu main sama aku dan Hilman,.” Doni mengajak Tristan bermain anak panah dengan Hilman.
“Yang lain belakangan,” kata Doni kepada teman-temannya.
Mereka pun mulai bermain.
“Buat garis, Tan,” perintah Doni kepada Tristan.
“Aku yang buat anak panahnya,” kata Bambang.
Tidak lama kemudian garis dan anak panahnya sudah siap.
“Sudah selesai, nih,” kata Bambang tidak lama setelah Tristan selesai membuat garis.
“Ayo kita mulai,” ajak Doni kepada Hilman dan Tristan.
“Taruhannya berapa, Don?” tanya Tristan.
“Dua saja, Tan,” jawab Doni.
Hilman hanya mengangguk tanda setuju.
Permainan pun dimulai, mereka bertiga melempar kelereng dari garis yang telah ditentukan.
Lemparan kelereng Hilman yang paling jauh dari puncak anak panah.
“Jauh amat lemparan Hilman, badan kecil gitu,” ejek Doni.
Hilman seolah tidak peduli dengan kata Doni.
Dia langsung mengambil ancang-ancang untuk membidik kelereng yang ada di dalam anak panah.
Di luar dugaan, centilan Hilman mengenai kelereng yang ada di puncak anak panah.
Kali ini Hilman keluar sebagai pemenang.
Dia memenangkan semua kelereng yang kali ini hanya berjumlah 6 kelereng
Doni yang kalah dari Hilman terlihat agak kesal.
Tapi, Hilman tetap bangga pada dirinya sendiri.
“Ye, menang!”
Hal itu semakin membuat Doni kesal.
“Setelah ini kita main lagi,” ucap Doni.
“Ayo, siapa takut,” sahut Hilman.
Permainan kedua yang dimainkan Bambang, Firman, dan Jono sudah selesai, dan dimenangkan oleh Bambang, tapi dia hanya untung 3 kelereng saja.
“Mbang, ayo main sama Hilman,” ajak Doni kepada Bambang.
Bambang pun menyetujui ajakan Doni.
“Kita taruhan 5 kelereng,” kata Doni.
Hilman terlihat menghitung jumlah kelereng yang dia miliki.
Jumlah kelereng Hilman saat ini adalah 14 karena tadi taruhannya hanya 2 kelereng.
Hilman dan Bambang setuju dengan ajakan Doni.
Kali ini mereka bermain dengan taruhan 5 kelereng per orang.
Permainan pun dimulai.
Hilman, Doni, dan Bambang mulai melempar kelereng secara bersamaan.
Lagi-lagi lemparan Hilman yang paling jauh dengan anak panah sehingga dia berkesempatan untuk membidik paling awal.
“Kali ini Hilman tidak akan dapat semua kelereng,” gumam Doni yang melihat kelereng Hilman yang cukup jauh dari puncak sasaran.
Hilman mulai ancang-ancang untuk membidik sasaran.
Beberapa detik kemudian Hilman mencentilkan kelerengnya.
Lagi-lagi centilan Hilman tepat mengenai puncak anak panah, yang membuat Hilman berhak memiliki semua kelereng yang ada di dalam anak panah.
Lagi, Hilman mengalahkan Doni dengan telak.
Saat Hilman mengambil semua kelereng, Doni berbisik kepada Bambang.
“Hilman kecil gitu kok bisa menang, dia pasti curang.”
“Ya, biasanya dia nggak pernah menang,” balas Bambang dengan berbisik pula.
“Woy, teman-teman! Hilman curang nih!” teriak Doni dengan tiba-tiba.
Teriakan Doni membuat Hilman kaget sampai kelerengnya jatuh sebagian.
Doni dan Bambang yakin bahwa Hilman curang dan merampas kelereng Hilman yang jatuh.
Sementara Tristan dan yang lain tidak percaya dengan Doni karena mereka melihat Hilman bermain dengan baik.
Pertengkaran di antara mereka pun akhirnya pecah.
Ada yang setuju dengan Doni dan ada yang yakin bahwa Hilman tidak curang.
Karena Hilman yang paling kecil, dia hanya menangis melihat teman-temannya berantem karena dirinya.
“Aku nggak curang!” Hanya itu yang diucapkan Hilman terus-menerus.
Bertengkaran semakin menjadi, mereka saling tarik baju.
Hingga akhirnya beberapa orang dewasa yang nongkrong di dekat lapangan desa mendatangi mereka.
Para orang dewasa itu melerai mereka dan menyuruh mereka pulang ke rumah masing-masing.
Akhirnya mereka bubar dan pulang ke rumah masing-masing.
Hilman juga pulang.
Di sepanjang jalan pulang Hilman masih nangis, dan bilang, “Aku nggak curang!”
Beberapa menit kemudian Hilman sudah sampai rumah.
“Anak Mama kenapa nangis?” tanya mama Hilman.
“Hilman nggak curang, Ma.”
“Cup … cup … siapa yang bilang Hilman curang?”
“Doni, dan teman-teman, Ma,” adu Hilman yang dipeluk mamanya.
“Biarlah, yang penting Hilman nggak curang, dan jangan pernah curang. Itu tidak disayang Mama,” kata mama Hilman sambil mengusap air mata Hilman.
Hilman masih cegukan habis nangis.
“Ayo ke warung Bunda Ida, kita beli es krim,” ajak mama Hilman.
Hilman pun langsung berdiri dan mengusap air matanya.
“Ayo, Ma.” Hilman semangat.
Mereka pun berangkat menuju warung Bunda Ida.
Beberapa menit kemudian Hilman dan mamanya sudah sampai di warung Bunda Ida.
“Ma, kelereng Hilman direbut Doni,” adu Hilman gara-gara melihat kelereng yang dijual Bunda Ida.
“Biarlah, itu Hilman masih punya banyak,” kata mama Hilman sambil menunjuk arah saku Hilman.
Hilman senyum sambil menggaruk kepalanya.
Beberapa saat kemudian Bunda Ida memberikan es krim ke Hilman.
Hilman pun pulang bersama namanya dengan ceria,

RT & RW

Kamu berkeliling kampung seperti biasa, untuk mendata wargamu yang biasa kamu lakukan setiap bulannya. Ya, kamu merupakan seorang RT di tempat yang kamu tinggali saat ini, yakni di Desa Mugello, Kecamatan Italiano. Sebagai seorang RT, tentu kamu ingin memastikan bahwa semua wargamu sejahtera dan aman.

Kamu memang tidak memasuki rumah warga satu per satu, karena memang tidak ada alasan untuk itu. Kali ini kamu hanya berjalan kaki biasa. Tidak lama kemudian, kamu berjumpa dengan salah seorang wargamu, yakni Ibu Warni. Dia menyapamu, “Selamat pagi, Pak RT. Bapak mau ke mana pagi-pagi begini?”

“Jalan-jalan saja, Bu,” jawabmu yang singkat, padat, dan jelas.

“Mampir dulu, Pak,” tawar Ibu Warni.

“Tidak. Terima kasih, Bu. Saya mau melanjutkan perjalanan. Assalamualaikum,” pungkasmu sambil berjalan meninggalkan Ibu Warni yang masih melihatmu dari belakang.

Tidak berselang lama, kamu sampai di sebuah pertigaan gang. Di sana terlihat ada tukang sayur yang dikerumuni para ibu-ibu yang sedang berbelanja sayuran untuk dimasak. Para ibu-ibu itu tidak menyadari kedatanganmu. Mereka masih saja asyik menggunjing tetangga mereka yang tidak ikut berbelanja di tempat kamu berdiri saat ini.

“Selamat pagi, ibu-ibu,” sapamu yang sontak membuat para ibu-ibu itu kaget.

“Pa-pa-pagi juga, Pak,” jawab salah seorang ibu-ibu dengan terbata.

“Eh, Pak RT dari mana? Atau mau ke mana?” tanya ibu-ibu yang lain.

“Ah, tidak. Hanya jalan-jalan pagi saja,” jawabmu yang seolah tidak mendengar apa yang ibu-ibu tadi gosipkan atau gunjingkan.

Kamu pun pergi begitu saja. “Mungkin sebaiknya aku ke rumah Pak RW,” monologmu sambil terus berjalan.

Tidak berapa lama kemudian, kamu pun sudah sampai di rumah Pak RW.

“Assalamualaikum, selamat pagi, Pak,” ucapmu di depan pintu rumah Pak RW.

“Wa’alaikum salam. Oh, Pak RT. Silakan masuk, Pak,” jawab Ibu Afifah—istri Pak RW—sambil mempersilakanmu masuk untuk menemui Pak RW.

“Baik, Bu.” Kamu pun langsung menuju ruang tamu untuk menunggu Pak RW menemuimu.

Sekitar lima menit kemudian, Pak RW pun datang menemuimu.

“Hai, pagi. Tumben banget lu datang pagi-pagi begini. Tidak dibuatkan kopi istrimu?” ledek Pak RW terhadapmu.

“Enak saja. Saya serius ke sini,” jawabmu dengan raut wajah yang serius.

“Slow, jangan terlalu serius. Lu kayak preseden aja. Ini gue Rudy teman SD lu, Pur. Nama lu masih Purnomo, ‘kan?”

“Iya iyalah, gue masih Purnomo.”

“Nah, begitu dong. Ada apa? Coba cerita. Jangan kaku tapi ceritanya. Gue udah bosen denger pidato dari Pak Lurah, jangan lu tambah.”

“Ya salam. Begini, tadi gue jalan-jalan pagi—”

“—Tumben lu jalan-jalan pagi!”

“Lanjut enggak nih, ceritanya?”

“Iya, deh. Lanjut gih. Gue ambil kopi dulu.” Dengan entengnya Rudy ke dapur tanpa memikirkan perasaanmu.

“Ah, sialan. Dia pergi, gue cerita sama siapa coba,” gerutumu.

Beberapa saat kemudian, Rudy datang dengan membawa dua cangkir kopi serta beberapa camilan.

“Ah, tidak usah repot-repot, Rud.”

“Gue kagak repot. Mana ceritanya?”

“Ya salam. Gue belum ceritalah! Kan lu kagak ada!” jawabmu sambil mengacak-acak rambutmu sendiri.
“Sok, cerita.”

“Ini enggak disuruh makan camilan atau minum kopi dulu?”

“What?” Rudy seolah kaget dan memegang dahimu. “Kagak panas,” lanjutnya.

“Gue kagak sakit kali. Kampret!”

“Slow. Lu dulu kalau ada makanan kagak usah ditawari, langsung makan. Sekarang kenapa minta ditawari? Langsung makan aja kali.”

“Kan itu dulu, Rud. Sekarang kita udah dewasa. Anda RW, saya RT. Jadi—”

Jari Rudy menutup mulutmu sambil berkata, “Makan sesukamu. Jangan lupa ceritanya tadi.”

Kamu pun mulai bercerita kepada Rudy. “Tadi gue tidak sengaja mendengar obrolan ibu-ibu di pertigaan gang waktu ada tukang sayur. Karena mereka tidak menyadari kedatangan gue, jadi gue mendengar sangat jelas apa yang mereka obrolkan. Itu juga yang membuat gue ke sini.”

“Ah, kebiasaan lu. Bertele-tele. Buruan!”

“Begini, Rud. Lu tahu Ibu Warni?”

“Tahu, yang rumahnya dicat dengan warna kuning, ‘kan?”

“Ya, itu.”

“Ada apa dengan Warni? Dia mantan gue tuh.”

“Ah, lu. Serius nih, awalnya gue juga kaget. Lu tahu kalau Warni mengadopsi anak dari kakaknya yang meninggal beberapa tahun lalu?”

“Tahulah, izinnya ke kita, ‘kan?”

“Nah, itu kata ibu-ibu tadi anak itu disiksa oleh Warni. Kalau itu benar, kan kasihan dengan anak itu, Rud.”

“Serius lu? Kalau ini tidak benar, bisa menjadi fitnah.”

“Mana gue tahu! Makanya gue ke sini.”

“Menurut lu kita harus gimana?”

“Kita ke rumah Warni untuk memastikan. Kita periksa fisik anak itu.”

“What? Ke rumah mantan? Ogah! Nanti ketemu suaminya pula.”

“Ayolah. Kita ini perangkat desa yang punya tanggung jawab atas warga kita.”

“Ah, sok bijak lu. Gue kagak bisa bayangin gimana kalau lu jadi presiden.”

“Amin ya Allah.”

“Siangan tapi.”

“Ah, tanggung! Sekarang, ayo,” ajakmu sambil mengajak Rudy untuk berdiri.

Setelah obrolan yang sangat panjang, akhirnya kalian berdua keluar dari rumah Rudy dan menuju ke rumah Warni. Karena jaraknya yang sedang, Rudy mengajakmu untuk menggunakan motornya.
Beberapa menit kemudian, kalian telah sampai di depan rumah Warni.

“Assalamualaikum,” ucap kalian berdua di depan rumah Warni.

“Wa’alaikum salam,” jawab Warni yang terlihat agak kaget.”

Tanpa basa-basi, Rudy langsung to the point mempertanyakan anak asuh Warni. “War, Naufal di mana?”

“Ada apa tanya anak itu?”

“Kami hanya ingin bertemu dengan anak itu,” katamu.

“Ada di belakang,” ucap Warni dengan agak malas.

Rudy tanpa permisi langsung menuju dapur yang berada di di area belakang rumah Warni.

“Eh, Rud. Lu mau ke mana!” teriak Warni, “nanti gue bilangin suami gue kalau dia udah pulang!” lanjutnya.

Namun, Rudy tetap ke belakang rumah. Sementara kamu mengikuti Warni dari belakang karena Warni mengejar Rudy ke belakang

Kamu melihat Rudy yang sedang memeluk Naufal—anak asuh Warni—sambil beranjak untuk berdiri.

“Kejam lu, War,” ucap Rudy kepada Warni. Sementara kamu terlihat kebingungan karena belum tahu apa yang dimaksud oleh Rudy.

“Jangan bawa anak itu, Rud. Nanti gue sendiri,” kata Warni. Namun, Purnomo tetap membawa Naufal keluar dari rumah Warni.

“Ayo, Pur. Kita ke balai desa. Lu yang bawa motor gue. Nih, kuncinya.” Rudy melempar kunci motor ke arahmu yang masih kebingungan. Namun, kamu memilih untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh Rudy.

Tidak lama kemudian, kalian berdua sudah sampai di Balai Desa Mugello, Kecamatan Italiano. Sementara itu, Naufal sedari tadi tidak bersuara sedikit pun. Begitu turun dari motor, kamu berusaha untuk mengajak bicara Naufal, tetapi tidak ada hasil. Naufal masih saja terdiam seribu bahasa.

Kalian bertiga pun memasuki kantor balai desa, di sana ada sekertaris desa. Kamu dan Rudy langsung duduk dengan Naufal di pangkuan Rudy.

“Kalian ada apa ke sini? Ada masalah dengan warga kalian?” tanya sekretaris desa itu.

“Coba pegang anak ini,” kata Rudy sambil menunjuk tubuh Naufal.

Sekretaris desa itu pun memegang tubuh ringkih Naufal. “Ya Allah, banyak luka,” katanya yang terlihat kaget.

“Coba lihat,” katamu sambil melepas baju yang dikenakan Naufal. Kamu sangat syok ketika melihat begitu banyak luka yang ada di tubuh Naufal.

Dengan geleng-geleng sekretaris desa itu bertanya, “Siapa yang melakukan ini?”

“Menurut warga, yang melakukan ini adalah ibu asuhnya,” jawabmu.

“Warni? Ya Allah, saya tidak menyangka Warni seperti itu.”

“Itu baru kata warga. Kita butuh bukti kalau memang Warni yang melakukan,” kata Rudy.

“Sesegera mungkin kita harus selesaikan masalah ini. Tapi, yang terpenting, kita harus melindungi Naufal untuk saat ini,” tegas sekretaris desa itu.

“Ya, Bu. Jadi bagaimana?” tanyamu.

“Saya akan menghubungi Bapak Kepala Desa, kita tunggu keputusan beliau.” Kamu dan Rudy hanya menganggukkan kepala.

Tidak lama kemudian, Kades Mugello sudah datang dengan mengucap salam. Kamu, Rudy, dan sekretaris desa itu pun menjawab salamnya.

Tidak perlu basa-basi, Kades Mugello langsung bilang, “Kita lapor polisi.”

“Tapi ….” Rudy masih terlihat agak ragu.

“Kenapa? Apa karena Warni mantan lu?” ledekmu.

Kakimu diinjak Rudy. “Kagaklah! Kita belum ada bukti yang kuat.”

“Soal itu kalian tidak perlu khawatir. Nanti biar polisi yang menyelidiki. Yang penting kita laporkan apa yang kita lihat. Di sini kita melihat bahwa Naufal mengalami penganiyaan. Masalah siapa yang melakukan, nanti polisi yang usut,” terang Pak Kades.

“Ya sudah, saya setuju,” jawabmu.

“Saya juga setuju,” kata Rudy.

“Kita pulang?” tanyamu sambil melihat ke Rudy.

“Ya, kalian pulang saja. Nanti kalau saya butuh kalian, saya hubungi kalian. Untuk Naufal, kalian tinggal di sini saja. Anak itu tidak rewel, dari tadi hanya diam,” kata Pak Kades Mugello.

Kalian pun berpamitan untuk pulang.


End.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai