Kamu berkeliling kampung seperti biasa, untuk mendata wargamu yang biasa kamu lakukan setiap bulannya. Ya, kamu merupakan seorang RT di tempat yang kamu tinggali saat ini, yakni di Desa Mugello, Kecamatan Italiano. Sebagai seorang RT, tentu kamu ingin memastikan bahwa semua wargamu sejahtera dan aman.
Kamu memang tidak memasuki rumah warga satu per satu, karena memang tidak ada alasan untuk itu. Kali ini kamu hanya berjalan kaki biasa. Tidak lama kemudian, kamu berjumpa dengan salah seorang wargamu, yakni Ibu Warni. Dia menyapamu, “Selamat pagi, Pak RT. Bapak mau ke mana pagi-pagi begini?”
“Jalan-jalan saja, Bu,” jawabmu yang singkat, padat, dan jelas.
“Mampir dulu, Pak,” tawar Ibu Warni.
“Tidak. Terima kasih, Bu. Saya mau melanjutkan perjalanan. Assalamualaikum,” pungkasmu sambil berjalan meninggalkan Ibu Warni yang masih melihatmu dari belakang.
Tidak berselang lama, kamu sampai di sebuah pertigaan gang. Di sana terlihat ada tukang sayur yang dikerumuni para ibu-ibu yang sedang berbelanja sayuran untuk dimasak. Para ibu-ibu itu tidak menyadari kedatanganmu. Mereka masih saja asyik menggunjing tetangga mereka yang tidak ikut berbelanja di tempat kamu berdiri saat ini.
“Selamat pagi, ibu-ibu,” sapamu yang sontak membuat para ibu-ibu itu kaget.
“Pa-pa-pagi juga, Pak,” jawab salah seorang ibu-ibu dengan terbata.
“Eh, Pak RT dari mana? Atau mau ke mana?” tanya ibu-ibu yang lain.
“Ah, tidak. Hanya jalan-jalan pagi saja,” jawabmu yang seolah tidak mendengar apa yang ibu-ibu tadi gosipkan atau gunjingkan.
Kamu pun pergi begitu saja. “Mungkin sebaiknya aku ke rumah Pak RW,” monologmu sambil terus berjalan.
Tidak berapa lama kemudian, kamu pun sudah sampai di rumah Pak RW.
“Assalamualaikum, selamat pagi, Pak,” ucapmu di depan pintu rumah Pak RW.
“Wa’alaikum salam. Oh, Pak RT. Silakan masuk, Pak,” jawab Ibu Afifah—istri Pak RW—sambil mempersilakanmu masuk untuk menemui Pak RW.
“Baik, Bu.” Kamu pun langsung menuju ruang tamu untuk menunggu Pak RW menemuimu.
Sekitar lima menit kemudian, Pak RW pun datang menemuimu.
“Hai, pagi. Tumben banget lu datang pagi-pagi begini. Tidak dibuatkan kopi istrimu?” ledek Pak RW terhadapmu.
“Enak saja. Saya serius ke sini,” jawabmu dengan raut wajah yang serius.
“Slow, jangan terlalu serius. Lu kayak preseden aja. Ini gue Rudy teman SD lu, Pur. Nama lu masih Purnomo, ‘kan?”
“Iya iyalah, gue masih Purnomo.”
“Nah, begitu dong. Ada apa? Coba cerita. Jangan kaku tapi ceritanya. Gue udah bosen denger pidato dari Pak Lurah, jangan lu tambah.”
“Ya salam. Begini, tadi gue jalan-jalan pagi—”
“—Tumben lu jalan-jalan pagi!”
“Lanjut enggak nih, ceritanya?”
“Iya, deh. Lanjut gih. Gue ambil kopi dulu.” Dengan entengnya Rudy ke dapur tanpa memikirkan perasaanmu.
“Ah, sialan. Dia pergi, gue cerita sama siapa coba,” gerutumu.
Beberapa saat kemudian, Rudy datang dengan membawa dua cangkir kopi serta beberapa camilan.
“Ah, tidak usah repot-repot, Rud.”
“Gue kagak repot. Mana ceritanya?”
“Ya salam. Gue belum ceritalah! Kan lu kagak ada!” jawabmu sambil mengacak-acak rambutmu sendiri.
“Sok, cerita.”
“Ini enggak disuruh makan camilan atau minum kopi dulu?”
“What?” Rudy seolah kaget dan memegang dahimu. “Kagak panas,” lanjutnya.
“Gue kagak sakit kali. Kampret!”
“Slow. Lu dulu kalau ada makanan kagak usah ditawari, langsung makan. Sekarang kenapa minta ditawari? Langsung makan aja kali.”
“Kan itu dulu, Rud. Sekarang kita udah dewasa. Anda RW, saya RT. Jadi—”
Jari Rudy menutup mulutmu sambil berkata, “Makan sesukamu. Jangan lupa ceritanya tadi.”
Kamu pun mulai bercerita kepada Rudy. “Tadi gue tidak sengaja mendengar obrolan ibu-ibu di pertigaan gang waktu ada tukang sayur. Karena mereka tidak menyadari kedatangan gue, jadi gue mendengar sangat jelas apa yang mereka obrolkan. Itu juga yang membuat gue ke sini.”
“Ah, kebiasaan lu. Bertele-tele. Buruan!”
“Begini, Rud. Lu tahu Ibu Warni?”
“Tahu, yang rumahnya dicat dengan warna kuning, ‘kan?”
“Ya, itu.”
“Ada apa dengan Warni? Dia mantan gue tuh.”
“Ah, lu. Serius nih, awalnya gue juga kaget. Lu tahu kalau Warni mengadopsi anak dari kakaknya yang meninggal beberapa tahun lalu?”
“Tahulah, izinnya ke kita, ‘kan?”
“Nah, itu kata ibu-ibu tadi anak itu disiksa oleh Warni. Kalau itu benar, kan kasihan dengan anak itu, Rud.”
“Serius lu? Kalau ini tidak benar, bisa menjadi fitnah.”
“Mana gue tahu! Makanya gue ke sini.”
“Menurut lu kita harus gimana?”
“Kita ke rumah Warni untuk memastikan. Kita periksa fisik anak itu.”
“What? Ke rumah mantan? Ogah! Nanti ketemu suaminya pula.”
“Ayolah. Kita ini perangkat desa yang punya tanggung jawab atas warga kita.”
“Ah, sok bijak lu. Gue kagak bisa bayangin gimana kalau lu jadi presiden.”
“Amin ya Allah.”
“Siangan tapi.”
“Ah, tanggung! Sekarang, ayo,” ajakmu sambil mengajak Rudy untuk berdiri.
Setelah obrolan yang sangat panjang, akhirnya kalian berdua keluar dari rumah Rudy dan menuju ke rumah Warni. Karena jaraknya yang sedang, Rudy mengajakmu untuk menggunakan motornya.
Beberapa menit kemudian, kalian telah sampai di depan rumah Warni.
“Assalamualaikum,” ucap kalian berdua di depan rumah Warni.
“Wa’alaikum salam,” jawab Warni yang terlihat agak kaget.”
Tanpa basa-basi, Rudy langsung to the point mempertanyakan anak asuh Warni. “War, Naufal di mana?”
“Ada apa tanya anak itu?”
“Kami hanya ingin bertemu dengan anak itu,” katamu.
“Ada di belakang,” ucap Warni dengan agak malas.
Rudy tanpa permisi langsung menuju dapur yang berada di di area belakang rumah Warni.
“Eh, Rud. Lu mau ke mana!” teriak Warni, “nanti gue bilangin suami gue kalau dia udah pulang!” lanjutnya.
Namun, Rudy tetap ke belakang rumah. Sementara kamu mengikuti Warni dari belakang karena Warni mengejar Rudy ke belakang
Kamu melihat Rudy yang sedang memeluk Naufal—anak asuh Warni—sambil beranjak untuk berdiri.
“Kejam lu, War,” ucap Rudy kepada Warni. Sementara kamu terlihat kebingungan karena belum tahu apa yang dimaksud oleh Rudy.
“Jangan bawa anak itu, Rud. Nanti gue sendiri,” kata Warni. Namun, Purnomo tetap membawa Naufal keluar dari rumah Warni.
“Ayo, Pur. Kita ke balai desa. Lu yang bawa motor gue. Nih, kuncinya.” Rudy melempar kunci motor ke arahmu yang masih kebingungan. Namun, kamu memilih untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh Rudy.
Tidak lama kemudian, kalian berdua sudah sampai di Balai Desa Mugello, Kecamatan Italiano. Sementara itu, Naufal sedari tadi tidak bersuara sedikit pun. Begitu turun dari motor, kamu berusaha untuk mengajak bicara Naufal, tetapi tidak ada hasil. Naufal masih saja terdiam seribu bahasa.
Kalian bertiga pun memasuki kantor balai desa, di sana ada sekertaris desa. Kamu dan Rudy langsung duduk dengan Naufal di pangkuan Rudy.
“Kalian ada apa ke sini? Ada masalah dengan warga kalian?” tanya sekretaris desa itu.
“Coba pegang anak ini,” kata Rudy sambil menunjuk tubuh Naufal.
Sekretaris desa itu pun memegang tubuh ringkih Naufal. “Ya Allah, banyak luka,” katanya yang terlihat kaget.
“Coba lihat,” katamu sambil melepas baju yang dikenakan Naufal. Kamu sangat syok ketika melihat begitu banyak luka yang ada di tubuh Naufal.
Dengan geleng-geleng sekretaris desa itu bertanya, “Siapa yang melakukan ini?”
“Menurut warga, yang melakukan ini adalah ibu asuhnya,” jawabmu.
“Warni? Ya Allah, saya tidak menyangka Warni seperti itu.”
“Itu baru kata warga. Kita butuh bukti kalau memang Warni yang melakukan,” kata Rudy.
“Sesegera mungkin kita harus selesaikan masalah ini. Tapi, yang terpenting, kita harus melindungi Naufal untuk saat ini,” tegas sekretaris desa itu.
“Ya, Bu. Jadi bagaimana?” tanyamu.
“Saya akan menghubungi Bapak Kepala Desa, kita tunggu keputusan beliau.” Kamu dan Rudy hanya menganggukkan kepala.
Tidak lama kemudian, Kades Mugello sudah datang dengan mengucap salam. Kamu, Rudy, dan sekretaris desa itu pun menjawab salamnya.
Tidak perlu basa-basi, Kades Mugello langsung bilang, “Kita lapor polisi.”
“Tapi ….” Rudy masih terlihat agak ragu.
“Kenapa? Apa karena Warni mantan lu?” ledekmu.
Kakimu diinjak Rudy. “Kagaklah! Kita belum ada bukti yang kuat.”
“Soal itu kalian tidak perlu khawatir. Nanti biar polisi yang menyelidiki. Yang penting kita laporkan apa yang kita lihat. Di sini kita melihat bahwa Naufal mengalami penganiyaan. Masalah siapa yang melakukan, nanti polisi yang usut,” terang Pak Kades.
“Ya sudah, saya setuju,” jawabmu.
“Saya juga setuju,” kata Rudy.
“Kita pulang?” tanyamu sambil melihat ke Rudy.
“Ya, kalian pulang saja. Nanti kalau saya butuh kalian, saya hubungi kalian. Untuk Naufal, kalian tinggal di sini saja. Anak itu tidak rewel, dari tadi hanya diam,” kata Pak Kades Mugello.
Kalian pun berpamitan untuk pulang.
End.