Hari ini seperti biasa. Hilman pergi bermain ke lapangan desa untuk bermain kelereng bersama teman-temannya.
Hilman merupakan anak lelaki kelas 3 SD. Sementara temannya ada yang kelas 4 dan 5 SD, Hilman termasuk yang paling kecil.
Hari ini yang berkumpul di lapangan desa ada beberapa anak.
Salah satunya Doni anak kelas 5 SD yang berbadan gempal.
“Hilman bawa kelereng berapa?” tanya Doni.
“Sepuluh, Kak,” jawab Hilman kepada Doni.
“Aku dong, bawa 30 kelereng.”
Hilman hanya diam melihat kelereng yang dibawa Doni.
“Kamu mau main permainan apa?” tanya Doni.
“Anak panah,” jawab Hilman dengan antusias.
“Setuju!” sahut anak yang lain.
“Oke. Tan, kamu main sama aku dan Hilman,.” Doni mengajak Tristan bermain anak panah dengan Hilman.
“Yang lain belakangan,” kata Doni kepada teman-temannya.
Mereka pun mulai bermain.
“Buat garis, Tan,” perintah Doni kepada Tristan.
“Aku yang buat anak panahnya,” kata Bambang.
Tidak lama kemudian garis dan anak panahnya sudah siap.
“Sudah selesai, nih,” kata Bambang tidak lama setelah Tristan selesai membuat garis.
“Ayo kita mulai,” ajak Doni kepada Hilman dan Tristan.
“Taruhannya berapa, Don?” tanya Tristan.
“Dua saja, Tan,” jawab Doni.
Hilman hanya mengangguk tanda setuju.
Permainan pun dimulai, mereka bertiga melempar kelereng dari garis yang telah ditentukan.
Lemparan kelereng Hilman yang paling jauh dari puncak anak panah.
“Jauh amat lemparan Hilman, badan kecil gitu,” ejek Doni.
Hilman seolah tidak peduli dengan kata Doni.
Dia langsung mengambil ancang-ancang untuk membidik kelereng yang ada di dalam anak panah.
Di luar dugaan, centilan Hilman mengenai kelereng yang ada di puncak anak panah.
Kali ini Hilman keluar sebagai pemenang.
Dia memenangkan semua kelereng yang kali ini hanya berjumlah 6 kelereng
Doni yang kalah dari Hilman terlihat agak kesal.
Tapi, Hilman tetap bangga pada dirinya sendiri.
“Ye, menang!”
Hal itu semakin membuat Doni kesal.
“Setelah ini kita main lagi,” ucap Doni.
“Ayo, siapa takut,” sahut Hilman.
Permainan kedua yang dimainkan Bambang, Firman, dan Jono sudah selesai, dan dimenangkan oleh Bambang, tapi dia hanya untung 3 kelereng saja.
“Mbang, ayo main sama Hilman,” ajak Doni kepada Bambang.
Bambang pun menyetujui ajakan Doni.
“Kita taruhan 5 kelereng,” kata Doni.
Hilman terlihat menghitung jumlah kelereng yang dia miliki.
Jumlah kelereng Hilman saat ini adalah 14 karena tadi taruhannya hanya 2 kelereng.
Hilman dan Bambang setuju dengan ajakan Doni.
Kali ini mereka bermain dengan taruhan 5 kelereng per orang.
Permainan pun dimulai.
Hilman, Doni, dan Bambang mulai melempar kelereng secara bersamaan.
Lagi-lagi lemparan Hilman yang paling jauh dengan anak panah sehingga dia berkesempatan untuk membidik paling awal.
“Kali ini Hilman tidak akan dapat semua kelereng,” gumam Doni yang melihat kelereng Hilman yang cukup jauh dari puncak sasaran.
Hilman mulai ancang-ancang untuk membidik sasaran.
Beberapa detik kemudian Hilman mencentilkan kelerengnya.
Lagi-lagi centilan Hilman tepat mengenai puncak anak panah, yang membuat Hilman berhak memiliki semua kelereng yang ada di dalam anak panah.
Lagi, Hilman mengalahkan Doni dengan telak.
Saat Hilman mengambil semua kelereng, Doni berbisik kepada Bambang.
“Hilman kecil gitu kok bisa menang, dia pasti curang.”
“Ya, biasanya dia nggak pernah menang,” balas Bambang dengan berbisik pula.
“Woy, teman-teman! Hilman curang nih!” teriak Doni dengan tiba-tiba.
Teriakan Doni membuat Hilman kaget sampai kelerengnya jatuh sebagian.
Doni dan Bambang yakin bahwa Hilman curang dan merampas kelereng Hilman yang jatuh.
Sementara Tristan dan yang lain tidak percaya dengan Doni karena mereka melihat Hilman bermain dengan baik.
Pertengkaran di antara mereka pun akhirnya pecah.
Ada yang setuju dengan Doni dan ada yang yakin bahwa Hilman tidak curang.
Karena Hilman yang paling kecil, dia hanya menangis melihat teman-temannya berantem karena dirinya.
“Aku nggak curang!” Hanya itu yang diucapkan Hilman terus-menerus.
Bertengkaran semakin menjadi, mereka saling tarik baju.
Hingga akhirnya beberapa orang dewasa yang nongkrong di dekat lapangan desa mendatangi mereka.
Para orang dewasa itu melerai mereka dan menyuruh mereka pulang ke rumah masing-masing.
Akhirnya mereka bubar dan pulang ke rumah masing-masing.
Hilman juga pulang.
Di sepanjang jalan pulang Hilman masih nangis, dan bilang, “Aku nggak curang!”
Beberapa menit kemudian Hilman sudah sampai rumah.
“Anak Mama kenapa nangis?” tanya mama Hilman.
“Hilman nggak curang, Ma.”
“Cup … cup … siapa yang bilang Hilman curang?”
“Doni, dan teman-teman, Ma,” adu Hilman yang dipeluk mamanya.
“Biarlah, yang penting Hilman nggak curang, dan jangan pernah curang. Itu tidak disayang Mama,” kata mama Hilman sambil mengusap air mata Hilman.
Hilman masih cegukan habis nangis.
“Ayo ke warung Bunda Ida, kita beli es krim,” ajak mama Hilman.
Hilman pun langsung berdiri dan mengusap air matanya.
“Ayo, Ma.” Hilman semangat.
Mereka pun berangkat menuju warung Bunda Ida.
Beberapa menit kemudian Hilman dan mamanya sudah sampai di warung Bunda Ida.
“Ma, kelereng Hilman direbut Doni,” adu Hilman gara-gara melihat kelereng yang dijual Bunda Ida.
“Biarlah, itu Hilman masih punya banyak,” kata mama Hilman sambil menunjuk arah saku Hilman.
Hilman senyum sambil menggaruk kepalanya.
Beberapa saat kemudian Bunda Ida memberikan es krim ke Hilman.
Hilman pun pulang bersama namanya dengan ceria,