Kirana dan Andi merupakan sepasang kekasih yang saling mencintai. Mereka bersekolah di sekolah yang sama, yakni di SMA Taruna.
Mereka sama-sama berprestasi, tetapi ada ketimpangan di antara mereka. Kirana merupakan anak dari keluarga sederhana, sementara Andi berasal dari keluarga yang berada.
Setelah mereka bersekolah di SMA Taruna selama tiga tahun, kini mereka harus menanggalkan seragam putih abu-abu mereka.
Kirana sibuk mencari kerja ke sana kemari. Sementara Andi, ia memilih untuk menuruti orang tuanya yang minta Andi untuk kuliah ke luar negeri.
Andi mau kuliah ke luar negeri karena ia tahu bahwa sang kakak, Firman diam-diam menyukai Kirana. Bahkan Firman memberi pekerjaan kepada Kirana tanpa sepengetahuan Andi.
Andi tahu saat ia main ke kantor kakaknya. Betapa terkejutnya Andi saat melihat Firman merayu Kirana. Namun, Andi pura-pura tidak tahu dan mengurungkan niatnya untuk ke ruangan kakaknya. Hal itulah yang membuat Andi menerima tawaran orang tuanya untuk kuliah ke luar negeri.
Saat hari keberangkatan Andi ke luar negeri, Kirana tahu bahwa Andinya akan pergi karena Firman yang keceplosan bicara. Kirana pun memaksa Firman untuk mengantarnya ke bandara .
Sesampainya di bandara, Kirana mencari Andi ke sana kemari. Ia tidak dapat menemukan keberadaan Andi.
“Kamu jahat, Fir,” rajuk Kirana sambil memukul-mukul tubuh Firman.
Tiba-tiba ada suara dari belakang tubuh Firman. “Firman tidak jahat. Aku yang harus pergi,” tutur Andi.
Kini Kirana memeluk erat tubuh Andi, orang yang sangat ia cintai.
“Kamu mencintai aku?” tanya Andi kepada Kirana.
Kirana hanya membalas dengan anggukan dan linangan air mata.
Andi diam sejenak, lalu bilang, “Aku tidak!”
“Tidak apa?” tanya Kirana yang kebingungan.
“Aku tidak mencintaimu, Kirana!”
Setelah mendengar pernyataan Andi, Kirana menangis tersedu-sedu.
“Kamu tahu? Selama ini yang membantu keluarga kamu itu Firman, bukan aku.”
Tidak hanya Kirana yang kaget setelah mendengar penuturan Andi. Firman pun kaget, pasalnya ia tidak pernah bilang kepada Andi kalau ia membantu keluarga Kirana. Sementara Kirana sama sekali tidak tahu-menahu asal-usul bantuan yang keluarganya terima sejak setahun belakangan. Kirana mengira bahwa itu pemberian Andi. Sementara Andi? Ia tidak mengira kalau ada udang di balik batu. Andi mengira bahwa bantuan itu dari bokapnya yang memang sudah mengetahui kedekatan antara Andi dan Kirana. Oleh karena itu, Andi hanya mengangguk saat ditanya Kirana perihal bantuan itu. Namun, kini semua sudah terbongkar.
Setelah Andi melihat Firman merayu Kirana di kantor, Andi menelusuri rekam jejak kakaknya itu. Betapa terkejutnya Andi saat melihat data-data kakaknya yang ternyata sudah lama menaruh hati kepada Kirana yang tidak lain merupakan kekasihnya. Sejak saat itu, ia putuskan untuk pergi sejauh mungkin dari Kirana dan Firman. Mungkin mengikhlaskan orang yang kita cintai tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun percayalah, semua hanya butuh waktu dan proses. Dan, proses dan waktu itu harus dimulai sejak keputusan itu diambil.
“Lu kok tahu?” tanya Firman.
“Sudah waktunya gue tahu, Kak. Cintai dan jaga Kirana dengan sepenuh hati,” bisik Andi di telinga Firman.
“Sudah, jangan menangis. Nanti calon kakak iparku cantiknya berkurang.” Andi mencoba menenangkan Kirana.
Setelah itu, panggilan kepada penumpang terdengar. Andi pun pergi melambaikan tangan kepada Firman dan Kirana.
Di dalam hati, Andi sangat mencintai Kirana. Kata maaf terus ia ucapkan di dalam hatinya.
Sobri dan Somat
Kamu duduk merenung di pinggir jalan raya yang ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang. Kemudian kamu beranjak dari tempat itu, kamu berjalanr kaki menuju terminal bus. Lima belas menit kemudian kamu sampai di terminal bus. Kamu naik bus dengan tulisan “Surabaya-Tuban”.
Kamu duduk bersandar di kursi bus yang tak lagi empuk. Namun, tidak terasa, tiga jam telah berlalu. Kamu pun sampai di terminal Tuban.
“Hai, Sobri,” sapa temanmu yang ternyata sudah menunggumu di terminal Tuban.
“Hai, Somat. Bagaimana Linda?” jawabmu yang tanpa basa-basi.
“Santai. Linda idolamu itu aman.”
“Tidak ada yang macam-macam dengan dia, ‘kan?”
“Wow, sejak kapan Sobri jadi begini?”
“Sejak aku mengidolakan Linda,” pungkasmu.
Kalian berdua terlihat naik motor keluar dari area terminal Tuban. Beberapa menit kemudian kamu sudah sampai desa yang kamu tuju. Yang tidak lain merupakan kampung halamanmu.
Begitu kamu sampai rumah, kamu langsung menanggalkan seluruh bawaanmu dari kota, tempatmu bekerja.
Dengan jalan kaki, dua puluh menit kemudian kamu sampai di sebuah rumah yang bercat hijau dengan dekorasi putih. Kamu terlihat heran saat sudah di depan pintu. Kamu sangat senang melihat Linda membuka pintu untukmu.
“Dik, makin bagus rumahnya,” katamu to the point.
“Ya, Mas. Alhamdulillah. Rumah ini direnovasi Mas Somat setelah kami menikah.”
Kamu langsung tersungkur ke lantai dan tak sadarkan diri.
Takbir
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu Akbar. Suara takbir menggema dari arah seberang jalan. Tak terasa air matamu menetes, seakan jiwamu tergunjang oleh gema takbir. Kamu teringat akan kematian yang bisa datang kapan saja.
Kamu juga sedih, karena takbir itu menandakan bahwa bulan suci Ramadan telah terlewati. Sementara itu kamu tahu kalau kamu belum tentu bisa bertemu dengan bulan Ramadan tahun depan. Tangismu tak bisa terbendung, air mata terus mengalir di pipimu.
Kamu coba beristigfar dan menarik napas untuk menenangkan hati dan pikiran. Allah yang maha baik membuatmu tenang, kamu optimis kalau akan berjumpa kembali dengan bulan Ramadan tahun depan. Kamu usap air matamu dengan senyuman manis di pipimu.
Nuzululqur’an
Hari ini puasa ke-16, itu artinya nanti malam nuzululqur’an. Namun, tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kamu tidak bisa tadarus di masjid seperti dulu.
Kamu mulai berpikir bagaimana cara membuat nuzululqur’an tahun ini tetap berkesan.
Dengan kecanggihan teknologi di zaman sekarang, kamu pun dapat ide untuk melakukan panggilan video dengan teman-temanmu. Setelah kamu punya ide itu, kamu kirim pesan siaran ke teman-temanmu yang dulu merayakan nuzululqur’an bersama di masjid.
Tak terasa magrib pun tiba, kamu berbuka puasa dengan perasaan senang, karena semua temanmu menyetujui ajakanmu untuk melakukan khataman Al-Qur’an secara daring.
Setelah salat isya dan tarawih, kamu mulai ajak teman-temanmu menyusun juz yang dibaca dari masing-masing kalian.
Juz pun disepakati, target khatam jam 3 pagi.
Kamu dan tujuh temanmu yang lain pun mulai mengaji.
Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Kini sudah jam 3 pagi, Al-Qur’an pun sudah terkhatamkan dengan daring. Kamu yakin bahwa wabah ini bukan halangan untuk tetap beribadah dan menjalin tali silaturrahmi.
Risiko
Di rumah sakit kamu bekerja, siang malam selalu siap dipanggil. Dokter, itulah profesimu. Hidup dan mati orang lain terkadang ada di tanganmu, rasa penyesalan saat tidak bisa menyelamatkan nyawa orang lain terkadang muncul pula di dalam benakmu. Di saat ada pandemi seperti saat ini, kamu tetap bekerja sepenuh hati, walau bisa saja kamu tertular dengan mudah. Namun, kamu memiliki pendirian yang sangat teguh. Kamu sadar bahwa hidup itu lebih bermakna jika bermanfaat bagi sesama.
Pagi ini pukul 7.00 kamu berangkat seperti biasa, karena tadi malam tidak ada panggilan darurat. Begitu kamu sampai di rumah sakit, kamu langsung mengecek pasien yang ada di bawah tanggung jawabmu, tak lupa kamu juga menggunakan APD. Namun, siapa sangka ternyata kamu mulai menunjukkan gejala yang sama dengan pasien yang kamu tangani, kamu tahu kalau kamu sudah tertular wabah yang mematikan. Kamu hubungi keluargamu untuk memberi tahu hal itu, kamu juga melapor ke atasan untuk isolasi mandiri. Kamu tidak mau ada yang merawat dirimu, kamu tidak mau orang lain dekat dengan dirimu. Kamu putuskan untuk pergi ke sebuah vila yang kamu miliki.
Sore ini kamu nikmati matahari tenggelam dengan kesendirian, tak seperti biasanya yang tertemani oleh keluargamu. Kali ini kamu putuskan untuk hidup sendiri, kamu berpesan pada keluargamu untuk menghubungimu setiap hari. Hal itu tentu disetujui oleh keluargamu dengan isak tangis, anak dan istrimu hanya bisa pasrah dan berdoa dengan keputusan yang kamu ambil. Tiga minggu kemudian saat istrimu menghubungimu tak lagi ada jawaban darimu.
Semua Pergi
Hari ini aku sedih banget karena kenangan itu kembali terlintas di benakku, di mana kedua orang tuaku pergi untuk selamanya.
Semua karena genangan di depan rumahku, rumah yang menjadi saksi bisu pada hari itu, hari yang kelam dalam hidupku. Waktu itu kakak yang menguatkanku.
“Sudahlah, Dik. Ini sudah takdir dari sang Maha Kuasa.” Dia memelukku dengan sangat erat. Aku tahu, dia juga sedih karena kepergian Ayah dan Ibu. Namun demi aku—adiknya yang masih kecil—itu tidak dia perlihatkan.
Waktu itu aku masih berusia sepuluh tahun, dan kakakku sudah tujuh belas tahun. Iya, dia sudah SMA kelas 3 saat orang tua kami menjadi korban kecelakaan di depan rumah, waktu itu Ayah dan Ibu baru pulang dari bekerja di ladang. Betapa malangnya mereka, saat mau masuk rumah tiba-tiba ada mobil yang hilang kendali dan merenggut nyawa mereka. Semua itu hanya karena genangan air di depan rumah kami yang tidak kunjung diperhatikan pemerintah. Andai aku sudah besar, pasti aku demo ke Bapak Bupati, begitu pikirku saat itu.
Dan, itu kembali terulang hari ini, hari di mana kakakku menjadi korban selanjutnya. Setelah kejadian tiga tahun lalu, jalan memang langsung diperbaiki oleh pemerintah. Namun, itu hanya bertahan tiga tahun, kini genangan itu membuatku hidup sebatang kara. Tidak ada lagi pelukan hangat seperti tiga tahun yang lalu, aku kini benar-benar sendiri di usiaku yang masih tiga belas tahun, aku masih ingat pesan kakak, “Kamu itu cowok, jangan cengeng.” Padahal aku juga pernah melihat kakakku menangis di dalam kamar. Kakakku adalah pribadi yang sangat kuat.
I miss you, Kak.
Entah kapan aku menyusul mereka, hanya air mata dan belas kasih tetangga yang ada. Semoga genangan itu segera merenggut nyawaku
Mimpi
Tidak, hampir tidak ada tempat nyaman untukku. Setiap saat hanya ada siksa dan siksa. Air mataku mengering tak tersisa.
“Angkat koper ini ke dalam mobil!” perintah Mama sambil menunjuk sebuah koper besar.
“Iya, Ma.” Dengan anggukan aku menjawab.
Koper yang begitu besar, tentu sangatlah berat bagi anak sepuluh tahun sepertiku. Namun, Mama tidak peduli itu. Aku pun jatuh bersama koper besar itu.
“Dasar anak nggak guna!” bentak Mama sambil menyeretku bersama koper besar itu.
“Aduh, Ma. Ampun.” Kakiku berdarah karena nyangkut di lantai yang berlubang.
“Jangan manja!” bentak Mama lagi.
Papa? Entahlah, hanya ada suaranya. Tanpa ada sosoknya.
“Sakit, Ma. Kaki Hana.”
Mama dengan tanpa ragu memukul kakiku yang berdarah, rasanya sungguh sakit. Sampai aku menjerit, tetapi tidak bisa bersuara.
Hahahaha
Itu suara Papa. Namun, entah di mana? Beliau menertawakanku yang kesakitan ataukah tertawa bersama orang lain, aku tidak tahu.
Namun, sangat jelas kalau itu suara Papa. Ingin rasanya aku berteriak memanggil Papa, tetapi mulutku kelu tak bisa bersuara. Mama? Beliau terus menyiksaku tanpa henti, setelah koper besar itu aku angkat sampai ke dalam mobil. Aku kira Mama akan pergi, ternyata yang pergi hanya Pak Sopir. Entah ke mana, kini aku diseret Mama menuju dapur. Di dapur ada Bik Ema. Namun, justru diusir Mama.
“Pergi sana! Biar Hana yang di dapur,” perintah Mama.
Aku lihat wajah Bik Ema tidak seperti biasa, kali ini sangat seram dengan senyum sinisnya kepadaku. Aku merinding seolah melihat zombi.
“Sekarang kamu masak!” bentak Mama dengan sangat keras.
Hahahaha
Suara Papa kembali terdengar, lagi-lagi hanya suara tawanya yang kudengar.
Tiba-tiba punggungku terasa sangat panas, ternyata Mama menyiram punggungku dengan minyak goreng yang sangat panas.
“Jangan melamun! Cepat kerjakan!” bentak Mama bak monster yang haus darah.
“Iya, Ma. Sebentar.”
Punggungku rasanya sangat panas, tetapi aku masih kuat untuk memasak nasi. Anehnya nasinya tiba-tiba hilang seketika saat aku menoleh sebentar. Mama pun kembali datang dengan wajah yang seram, hingga membuat aku ketakutan.
“Ini nasinya ke mana?” tanya sambil menjewer telingaku.
“Ampun, Ma. Aku nggak tahu,” jawabku sambil kesakitan.
“Mama nggak mau tahu! Nasi harus matang dalam waktu 10 menit!” bentak Mama.
“Ya Tuhan, tolonglah hamba.” Aku hanya bisa berdoa, berharap semua akan cepat berlalu.
Ajaib, tiba-tiba nasinya ada dan matang dengan pulen, tidak sampai 10 menit. Hatiku sangat senang, karena mungkin aku tidak dapat siksaan dari Mama. Namun aku salah. Mama kembali dengan amarah yang meluap.
“Mana lauknya? Masa kita makan nasi doang!” bentak Mama sambil memukul wajahku.
Rasanya sakit banget, aku hanya menangis tetapi Mama tidak peduli.
“Sekarang masak lauk sana!” bentak Mama.
Padahal di dapur itu tidak ada apa-apa, aku hanya berdoa. “Ya Tuhan, apa yang harus aku masak?”
Keajaiban kembali terjadi. Papa yang tadi hanya terdengar suaranya, kini beliau datang dengan membawa sayuran.
“Ini masak,” kata Papa. Namun, sorot matanya merah seakan itu bukan Papa. Benar saja, beliau memukul pantatku hingga aku terjatuh. Di saat itulah Papa seperti ingin menggagahiku. Ya, Papa berusaha untuk membuka rok yang kukenakan.
“Ampun, Pa!” teriakku.
Mama datang. Namun hanya tertawa.
“Lakukan, Mas,” kata Mama kepada suaminya.
Semua berlalu begitu cepat, hanya tersisa rasa yang sangat sakit di kemaluanku. Aku menangis kenapa semua ini harus terjadi padaku.
Aku lihat Mama dan Papa yang makan sambil tertawa, mereka tidak peduli padaku. Ingin rasanya kabur dari rumah ini. Namun mau ke mana? Aku tidak tahu jalan, aku tidak tahu harus ke mana.
“Hai kamu, jangan hanya menangis. Kerja sana!” bentak Mama.
Tubuhku rasanya hancur, rasa sakit menjalar di sekujur tubuh. Dari kaki, kemaluan, punggung sampai telinga. Inikah neraka dari orang tua?
“Han, bersihkan kamar mandi sekarang!” bentak Mama.
Aku pun diseret ke kamar mandi yang sangat kotor, penuh dengan kotoran, kecoak, bahkan tikus. Semunya membuatku jijik. Air pun sangat sedikit.
“Kamu harus menimba lebih dulu,” kata Mama sambil melotot
“Tapi, Ma?”
“Tidak ada tapi-tapian!” bentak Mama.
Aku hanya menghela napas, sebegini amat nasibku. Apakah semua ini akan berakhir?
Aku laksanakan perintah Mama untuk menimba, sungguh berat. Ingin rasanya aku terjun ke dalam sumur. Namun, aku takut mati, aku masih ingin hidup. Aku mulai menimba sedikit demi sedikit. Aku tuangkan air dari timba ke dalam lubang kamar mandi, airnya langsung mengalir ke dalam.
Tiba-tiba Mama teriak, “Han, kamu mau kita tenggelam? Itu lihat kamar mandinya banjir.“
Aku pun kena jewer lagi, kedua telingaku rasanya sangat sakit . Aku juga heran, karena aku baru menimba sedikit. Namun kamar mandi sudah penuh, dan sampai mengalir ke mana-mana.
“Han, jangan diam saja. Sekarang bersihkan kamar mandi!” bentak Mama.
Iya, Ma,” jawabku.
Aku pun langsung mengambil alat untuk membersihkan kamar mandi. Aneh, kotoran dan kecoak masih ada walau airnya mengalir dengan deras. Aku tidak tahu harus bagaimana membersihkan semua ini.
“Ya Tuhan, tolonglah hamba.”
Tiba-tiba kecoak tadi hanyut terbawa air. Namun, air masih terus mengalir yang entah dari mana.
“Han! Airnya kok semakin banyak!” teriak Mama.
“Tidak tahu, Ma. Hana tidak menimba.”
Ternyata di luar kamar mandi ada orang yang menimba. Iya, itu Papa yang terlihat seperti monster. Aku takut, aku tidak berani apa-apa. Aku hanya membersihkan kotoran yang sedari tadi tidak mau hilang. Entah sampai kapan ini, kenapa mereka jadi seperti itu? Apa yang membuat mereka seperti itu? Apa aku salah lahir di dunia ini? Entahlah.
Tiba-tiba terdengar suara Mama yang memanggilku dengan lembut. “Nak, bangun!”
Aku terbangun dari tidurku dengan tubuh penuh keringat. Napasku masih terengah-engah, aku masih takut dengan Mama, aku tidak berani menatap Mama. Tubuhku menggigil ketakutan.
“Hana kenapa? Ini mama, Nak,” kata Mama sambil memelukku. “Hana mimpi apa?” lanjut Mama.
“Hana takut, Ma. Mama sayang Hana, ‘kan?” Kuberanikan diri untuk menatap Mama.
“Jelas, dan sudah pasti. Mama sayang Hana. Bahkan melebihi nyawa mama sendiri,” jawab Mama yang membuatku agak tenang.
Mama terus mengelus rambutku dan memberi segelas air yang sedari tadi ada di meja kecil. Aku pun minum air itu, setelah minum. Mama kembali bertanya, “Hana mimpi apa? Kok sampai ketakutan.”
Aku ceritakan semua mimpiku, Mama hanya geleng-geleng sambil terus memelukku dan bilang kepadaku.
“Nak, tidak ada orang tua yang setega itu jika mereka masih memiliki hati nurani. Semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Walau ada anak yang salah artikan dan menganggap orang tua tidak sayang. Percayalah jika mama atau papa marah itu karena kami sayang Hana, dan jika kami larang Hana melakukan sesuatu, berarti itu tidak baik untuk Hana,” jelas Mama panjang lebar yang membuatku tenang.
“Hana sayang kalian.” Kupeluk erat Mama yang telah bertaruh nyawa untuk melahirkanku ke dunia.
Ternyata hal buruk itu hanya mimpi.
Selesai.
Pak Liman
Pahlawan. Mungkin itu gelar yang pantas disandang oleh Pak Liman, seorang kakek yang setiap harinya mencari sampah di sebuah hulu sungai di desanya. Tekad dan motivasi beliau sangat besar, walau di zaman sekarang orang jarang ada yang sadar dengan kebersihan lingkungan. Namun Pak Liman tidak pernah mengeluh atau menyerah, bahkan anaknya tidak peduli dengan Pak Liman. Mereka menganggap bahwa Pak Liman hanya membuang waktu.
“Apa niat Bapak selalu membersihkan hulu sungai ini?” tanya salah seorang perangkat desa setempat.
“Saya tidak punya niat apa-apa, saya hanya berpedoman pada hadis ‘kebersihan bagian dari iman’, dan air adalah sumber dari seluruh kehidupan. Apabila air kotor, maka semua jadi kotor. Saya tidak mau itu, Nak,” jawab Pak Liman.
Pemuda perangkat desa itu pun merasa malu dengan jawaban Pak Liman. Akhirnya dia melaporkan hal itu ke atasannya. Bahkan sampai ke bupati, karena memang sungai itu sangat penting di kabupaten itu. Sang Bupati pun mengundang Pak Liman ke pendopo kabupaten.
Bupati ingin memberikan penghargaan kepada Pak Liman. Namun Pak Liman menolak dengan halus.
“Pak, saya hanya menjalankan syariat yang saya yakini, jadi bagi saya bisa menjalankannya dengan istikamah sudah sangat cukup. Jika penghargaan itu membuat saya tinggi hati, lebih baik tidak,” tolak Pak Liman.
Bupati hanya geleng-geleng. Namun beliau tidak habis akal. Pak Liman diberangkatkan umrah ke Mekkah. Kali ini Pak Liman tidak bisa menolak karena sudah terdaftar di biro perjalanan haji dan umrah. Beliau tinggal berangkat.
Akhirnya Pak Liman yang hanya tukang pembersih kali bisa umrah.
Segala ketulusan pasti berbuah manis.
Jangan Salah Sangka
- “Aduh! Sakit,” rengek Wina.
“Hehehe Sorry gue nggak sengaja,” elak Farid sang Kakak kelas yang usil memukul Wina.
“Kenapa Kakak mukul Wina? Sakit tahu, Kak!”
“Habis Wina lucu kalau dipukul pantatnya.”
“Ah dasar si Kakak!” Wina sambil mencubit perut Farid.
“Auh! Sakit, balas dendam nih?”
Sambil senyum manis Wina menjawab, “nggak, Kak. Kebetulan tadi tangan Wina lewat perut Kakak.”
Wina dan Farid seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Namun, mereka tidak saling mengakui rasa masing-masing.
“Kalian di sini ternyata,” kata Ira sambil duduk di sebelah Farid.
“Gue permisi ke perpustakaan ya, Kak,” pamit Wina kepada Farid.
Farid seakan mau berdiri mengikuti Wina, namun ditahan Ira.
“Hai, mau ke mana? Gue baru datang juga,” rajuk Ira.
Farid pun akhirnya membiarkan Wina pergi ke perpustakaan.
“Ada apa sih, Ir?”
“Temani gue ke kantin!”
Dengan wajah yang tidak menyenangkan Farid menuruti Ira untuk ke kantin. Ternyata Wina tidak jadi ke perpustakaan, melainkan ke kantin juga bersama Huda. Ya, karena sewaktu Wina meninggalkan Farid dan Ira di taman sekolah, Wina bertemu Huda kemudian diajak ke kantin. Farid yang datang bersama Ira melihat Wina yang berduaan dengan Huda pura-pura bermesraan dengan Ira.
“Ir, malam ini nonton yuk,” ajak Farid kepada Ira di depan Wina dan Huda.
Ira hanya geleng-geleng. Tentu Farid kaget.
“Kenapa, Ir?”
“Gue mau nonton sama Huda.”
“What?” Farid tambah kaget.
“Jangan kaget bro, gue sama Ira sengaja mancing kalian,” kata Huda sambil berdiri dan menarik tangan Farid.
“Maksudnya apa?” tanya Farid masih bingung.
Sambil megang tangan Farid untuk mendudukkan Farid. Huda bilang, “gue sudah lama pacaran sama Ira, kami sengaja selama ini mengusik hubungan kalian untuk tahu seberapa besar cinta kalian.”
“Dasar loe!”
“Sudah ya, waktunya kalian meresmikan hubungan kalian. Bagaimana teman-teman?”
Seisi kantin bersorak.
Akhirnya Wina dan Farid jadian.
Selesai!
Jangan sombong dengan ilmu.
Orang yang cerdas adalah orang yang mau mengingatkan dan diingatkan. Karena semakin kamu selami sebuah ilmu, maka kamu akan merasa semakin kecil di dalamnya.
Adib La Tahzan