Sobri dan Somat


Kamu duduk merenung di pinggir jalan raya yang ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang. Kemudian kamu beranjak dari tempat itu, kamu berjalanr kaki menuju terminal bus. Lima belas menit kemudian kamu sampai di terminal bus. Kamu naik bus dengan tulisan “Surabaya-Tuban”.
Kamu duduk bersandar di kursi bus yang tak lagi empuk. Namun, tidak terasa, tiga jam telah berlalu. Kamu pun sampai di terminal Tuban.
“Hai, Sobri,” sapa temanmu yang ternyata sudah menunggumu di terminal Tuban.
“Hai, Somat. Bagaimana Linda?” jawabmu yang tanpa basa-basi.
“Santai. Linda idolamu itu aman.”
“Tidak ada yang macam-macam dengan dia, ‘kan?”
“Wow, sejak kapan Sobri jadi begini?”
“Sejak aku mengidolakan Linda,” pungkasmu.
Kalian berdua terlihat naik motor keluar dari area terminal Tuban. Beberapa menit kemudian kamu sudah sampai desa yang kamu tuju. Yang tidak lain merupakan kampung halamanmu.
Begitu kamu sampai rumah, kamu langsung menanggalkan seluruh bawaanmu dari kota, tempatmu bekerja.
Dengan jalan kaki, dua puluh menit kemudian kamu sampai di sebuah rumah yang bercat hijau dengan dekorasi putih. Kamu terlihat heran saat sudah di depan pintu. Kamu sangat senang melihat Linda membuka pintu untukmu.
“Dik, makin bagus rumahnya,” katamu to the point.
“Ya, Mas. Alhamdulillah. Rumah ini direnovasi Mas Somat setelah kami menikah.”
Kamu langsung tersungkur ke lantai dan tak sadarkan diri.

Diterbitkan oleh Adib La Tahzan

Penulis dengan rasa

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai